Social Icons

Featured Posts

Pesan untuk Presiden Baru, JOKOWI-JK

Oleh: M. Quraish Shihab

Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla,
Izinkanlah saya menyampaikan taushiyah kepada Bapak berdua. Taushiyah yang pernah disampaikan oleh sekian orang bijak kepada sekian kepala pemerintahan. Saya menyampaikannya bukan karena menduga Bapak tidak tahu, tidak juga merasa bahwa Bapak akan melakukan hal buruk, tapi sekadar mengingatkan, karena manusia di tengah kesibukannya atau semangatnya yang menggebu seringkali lengah atau lupa.

Pak Jokowi dan Pak JK,
Ingatlah – ketika Bapak berdua – besok Insya Allah diangkat sebagai kepala negara dan wakil kepala negara, bahwa Allah swt. merestui seseorang menjadi imam/ kepala negara, dengan tujuan menjadi penegak segala yang roboh, pelurus segala yang bengkok, pelaku perbaikan segala yang rusak, menjadi kekuatan bagi yang lemah, keadilan bagi yang teraniaya, serta tempat berlindung semua yang takut.

Kepala negara yang adil bagaikan penggembala yang sangat kasih terhadap gembalaannya. Ia mengantarnya ke tempat rerumputan yang terbaik, menghindarkannya dari jurang yang menjerumuskan, melindunginya dari binatang buas, serta membawanya jauh dari sengatan panas dan dingin.

Kepala negara yang adil adalah yang sekali berada di depan untuk memberi teladan, di kali lain di belakang untuk mendorong, dan di kali ketiga berada pada posisi tengah. Ini antara lain berarti bahwa dia hendaknya berada antara Tuhan dan masyarakat yang dipimpinnya, dia mendengar firman-Nya lalu memperdengarkannya kepada mereka, dia “melihat” Allah lalu memperlihatkan-Nya kepada mereka, dia tunduk kepada Allah lalu menudukkan masyarakatnya kepada-Nya.eng

Pak Jokowi dan Pak JK,
Ingatlah bahwa Allah swt. menetapkan sanksi hukum dengan tujuan menghindarkan manusia dari dosa dan keburukan, maka sungguh bagaimana jadinya jika yang diserahi mengurus manusia justru melakukan dosa dan keburukan?

Ingatlah bahwa Allah menetapkan qishash sanksi hukum dengan tujuan memelihara hidup manusia, maka bagaimana jadinya jika yang diberi wewenang menjatuhkan qishash, justru dia yang mengabaikan hak hidup manusia?

Renungkalah tentang kematian dan apa yang sesudah kematian! Ingatlah bahwa setiap orang, walau di dunia ini mendapat dukungan yang banyak, namun kelak di akhirat ia berpotensi kehilangan pendukung. Karena itu, berbekal lah sejak dini menghadapi hari esok yang menakutkan itu. Kelak Anda akan mendapatkan tempat bukan seperti yang Anda tempati di dunia ini. Bisa amat buruk tapi bisa juga amat sangat baik.

Pak Jokowi dan Pak JK,
Janganlah menjalankan pemerintahan seperti cara orang yang jahil, jangan juga menempuh jalan yang ditelusuri oleh orang zalim. Jika kekuasan Anda mendorong Anda berbuat zalim, maka ingatlah kuasa Allah terhadap Anda. Jangan beri peluang kepada yang angkuh, jangan juga kepada penindas, karena jika ini terjadi lalu Anda biarkan, maka Anda akan memikul, di samping dosa-dosa Anda sendiri, juga dosa-dosa mereka yang Anda biarkan itu.

Jangan sekali-kali terperdaya oleh orang- orang yang memuji-muji Anda. Jangan juga dengan mereka yang berusaha meraih kenikmatan melalui kekuasaan yang Anda miliki. Karena, mereka itu menikmati dunia mereka atas biaya hilangnya kenikmatan anda di akhirat.

Jangan juga mata Anda tertuju kepada kekuasaan yang Anda miliki dewasa ini, tetapi arahkanlah pandangan ke hari esok, ketika kita semua akan terbelenggu oleh belenggu kematian, berdiri menghadap Allah di arena di mana tunduk semua wajah dengan rendah hati kepada Tuhan Yang Maha hidup kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.

Pak Jokowi dan Pak JK,
Bisa jadi pesan orang-orang bijak yang saya sampaikan ini pahit terasa, walau saya telah berusaha mengurangi kepahitannya. Namun bila kepahitan masih juga Bapak berdua rasakan, maka anggaplah ia sebagai upaya imunisasi yang membentengi Bapak berdua. Imunisasi perlu Pak, karena di sekeliling kita bertebaran kuman dan virus yang membahayakan.

Akhirnya doa kami antara lain adalah: Seandainya kedudukan presiden dan wakil presiden yang besok Insya Allah akan Bapak emban, seandainya jabatan itu merupakan takdir yang ditetapkan Allah terhadap Bapak, maka kami berdoa semoga Allah membimbing dan memberi Bapak kekuatan untuk mengantar kami ke pulau harapan, ke cita-cita Proklamasi. Dan jika pengangkatan Bapak berdua adalah karena itu merupakan takdir kami sebagai rakyat, maka kami bermohon kiranya Allah membantu kami untuk mendukung Bapak memikul tanggung jawab yang berat itu. Shalawat dan rahmat semoga selalu tercurah kepada kita semua.

[Tausiah M. Quraish Shihab pada acara "Zikir Khatmil Qur'an dan Tasyakuran", Masjid Sunda Kelapa, 19 Oktober 2014] 
»»  READMORE...

JADILAH SEPERTI PELAMPUNG

Oleh: Mulyadhi Kartanegara

Kalau gak salah Rumi pernah berkata: "Jadilah seperti pelampung, yang di manapun berada ia akan tetap muncul di permukaan." Selintas, ungkapan tersebut seperti tak begitu istimewa, karena ya begitulah sifat dari pelampung. Tapi ada makna lain yang lebih dalam dari ungkapan tersbut, yang begitu berarti tapi tak selalu mudah untuk dicapai. Dengan ungkapan tersebut, sesungguhnya Rumi mengingankan kita, untuk senantiasa menjadi orang yang senantiasa berada di posisi atas, yakni menjadi orang yang terkemuka, seperti halnya pelampung, atau menjadi pemimpin, di mana pun kita berada: di kampung asal kitakah, di kantor tempat kita bekerjakah, di lingkungan baru di mana kita tinggalkah, hendaknya kita terus menjadi orang yang terkemuka atau pemimpin. Bukan menjadi pemuka atau pemimpin dengan cara merebut kedudukan orang lain, tetapi menjadi pemimpin karena sifat dasar dan kepemimpinan kita sendiri, karena keperdulian kita pada masyarakat di sekitar, kesiapan untuk membantu mengatasi kebingungan dengan ilmu kita, mengatasai kesulitan mereka dengan tenaga dan harta yang kita miliki, dan mengatasi kesedihan mereka dengan perhatian, hiburan dan nasehat yang berguna.

Kepemimpinan seperti inilah menurut Rumi, yang seharusnya dimiliki seorang sufi sejati, dan beliau telah membuktikannya sendiri. Karena bagi beliau, sufi adalah seperti kutub atau poros, di mana yang lain mengikuti perputarannya, atau seperti singa, yang menjadi sumber bagi hewan lainnya. 

Tapi terus terang, bagi sebagian kita, termasuk saya sendiri, menjadi pelampung seperti itu sangatlah sulitnya. Kita sepertinya tak cukup energi untuk menggapainya. Perhatian kita masih saja terlalu egoistik, hanya memperhatikan kepentingan diri kita sendiri, sangat minim untuk memperhatikan nasib orang lain, nasib bawahan kita, nasib tetangga kita, nasib orang-orang duafa, sebuah kepedulian dan keprihatinan yang sejatinya harus dimiliki oleh setiap mereka yang ingin menjadi pemuka dan pemimpin sejati. Semoga bermanfaat.
»»  READMORE...

Khutbah IdulAdha: Hikmah Idul Qurban dan Keshalehan Nabi Ibrahim

Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita agungkan nama-Nya, kita gemakan takbir dan tahmid sebagai pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah. Takbir yang kita ucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti. Tetapi merupakan pengakuan dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman. Allah Maha Besar. Allah Maha Agung. Tiada yang patut di sembah kecuali Allah. 

Karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak kepada diri saya sendiri dan juga kepada hadirin sekalian: Marilah kita selalu bertawa kepada Allah SWTdengan menundukkan kepala dan jiwa kita di hadapan Allah Yang Maha Besar. Campakkan jauh-jauh sifat keangkuhan dan kecongkaan yang dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Sebab apapun kebesaran yang kita sandang, kita kecil di hadapan Allah. Betapapun perkasanya kita, masih lemah dihadapan Allah Yang Maha Kuat. Betapapun hebatnya kekuasaan dan pengaruh kita, kita tidak berdaya dalam genggaman Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. 

Allahuakbar 3x 
Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Ada beberapa Nama Yang melekat dengan Hari Raya Idul Adha ini; yang pertama: “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian yang sama yakni serba putih, Menghadap kearah yang sama, memiliki Tuhan yang Sama, ini semua melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Menandakan bahwa mereka sederajat, dan Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, dengan bersama-sama membaca kalimat talbiyah. 

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ 

Kemudian yang kedua “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri memiliki makna dekat (yakni mendekatkan diri kepada Allah), kita berqurabn dengan menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Masalah pengorbanan ini, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya (Ismail dan Siti Hajar). 

Adapun Pengorbanan-pengorbanan Nabi Ibrahim ini bisa kita lihat; pertama; Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya siti Hajar bersama Nabi Ismail putranya, Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, Tapi Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal. 

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan. 

Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok negeril, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, ini semua berkat do’a Nabi Ibrahim AS, hal ini dilukiskan oleh Allah dalam Al-Qur’an: 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ 

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, sebagai negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kiamat.” (QS Al-Baqarah: 126) 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Kemudian yang ketiga idul adha disebut juga sebagai “Idul Nahr” artinya hari memotong kurban. Dalam hal memotong hewan qurban ini, kita akan melihat pengorbanan yang kedua yang menimpa nabi Ibrahim AS; yakni Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk memotong Anaknya yang bernama Ismail yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, cerdas, sehat dan cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat : 102 : 

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ 

Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As-shaffat: 102). 

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, : ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.” Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di mina. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Dalam keadaan seperti itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak yang telah melaksanakan apa yang telah Allah Perintahkan. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110: 

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ 

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” 

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ 

“Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” 

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ 

“Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim.” 

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ 

“Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” 
Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’ 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Inilah sejarah pertamanya korban di Hari Raya Qurban. Yang kita peringati pada pagi hari ini. Allah Maha pengasih dan Penyayang. Korban yang diperintahkan bukan seperti yang diperintahkan kepada Nabi Ibrahim, yakni menyembelih anaknya sendiri, namun cukup binatang ternak, baik kambing, sapi, kerbau maupun lainnya. Sebab Allah tahu, kita tidak akan mampu menjalaninya, jangankan memotong anak kita sendiri, memotong sebagian harta kita untuk menyembelih hewan qurban, kita masih terlalu banyak berfikir. memotong 2,5 % harta kita untuk zakat, kita masih belum menunaikannya. Memotong sedikit waktu kita untuk sholat lima waktu, kita masih keberatan. Menunda sebentar waktu makan kita untuk berpuasa, kita tak mampu melaksanakannya, dan sebagainya. Begitu banyak dosa dan pelanggaran yang kita kerjakan, yang membuat kita jauh dari Rahmat Allah SWT. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah 
Adapun Hikmah yang dapat diambil dari pelaksanaan shalat Idul Adha ini adalah, bahwa hakikat manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah taqwanya. 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, pada saat wukuf di Arafah memberi gambaran bahwa kelak manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dimintai pertanggung jawaban. 
Di samping itu, kesan atau i’tibar yang dapat diambil dari peristiwa nabi Ibrahim diatas adalah: 
Pertama, Hendaknya kita sebagai orang tua, mempunyai upaya yang kuat membentuk anak yang sholih, menciptakan pribadi anak yang agamis, anak yang berbakti kepada orang tua, lebih-lebih berbakti terhadap Allah dan Rosul-Nya. 
Kedua, perintah yang telah digariskan oleh Allah SWT, harus dilaksanakan. Harus disambut dengan tekad sami’na wa ‘atha’na. Karena sesungguhnya, ketentuan-ketentuan Allah SWT pastilah manfaatnya kembali kepada kita sendiri. 
Ketiga, adalah kegigihan syaitan yang terus menerus mengganggu manusia, agar membangkang dari ketentuan Allah SWT. Syaitan senantiasa terus berusaha menyeret manusia kepada kehancuran dan kegelapan. Maka janganlah mengikuti bujuk rayu syaithon, karena sesungguhnya syaithon adalah musuh yang nyata. 
Keempat, jenis sembelihan berupa binatang ternak, artinya dengan matinya hawan ternak yang kita sembelih, dan menetesnya darah, ini melambangkan kita membuang kecongkaan dan kesombongan kita, dan semua hawa nafsu hayawaniyah harus kita buang, jangan dibiarkan tumbuh subur dalam hati kita. 

Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, 
Sangatlah tepat apabila perayaan Idul Adha digunakan menggugah hati kita untuk berkorban bagi negeri kita tercinta, yang tidak pernah luput dirundung kesusahan dan perselisihan. Jika kita lihat dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS diatas, yang dicatat dalam sejarah umat manusia itulah yang membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul, dan mempunyai arti yang sangat besar. Dari sejarahnya itu, maka lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan dilepasnya siti hajar dan Ismail di lembah yang tandus, maka timbullah air zam-zam yang tidak pernah kering, sejak ribuan tahun yang silam, sekalipun tiap harinya dikuras berjuta liter. 

Akhirnya dalam kondisi seperti ini kita banyak berharap, berusaha dan berdoa, mudah-mudahan kita semua, para pemimpin kita, pejabat-pejabat kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tapi berjuang untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara. Kendatipun perjuangan itu tidaklah mudah, memerlukan pengorbanan yang besar. Oleh kerena itulah, Hanya orang-orang bertaqwa lah yang sanggup melaksanakan perjuangan dan pengorbanan ini dengan sebaik-baiknya. Sehingga bisa memberikan kontribusi yang besar bagi ummat dan masyarakat generasi penerus kita nantinya. 

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah kedua: 

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا 

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ. 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسعيهم سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذنبهم ذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعملهم عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ. يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنا يَا اللهُ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ. 

Ya Allah ya Ghoffar, ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami, dosa suami / istri kami, dosa anak-anak kami, dosa saudara-saudara kami dan dosa orang yang pernah berjasa kepada kami. 

Ya Allah ya Rahiim, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan peunjuk dan ridhomu, bukan jalan yang engkau sesatkan dan bukan juga jalan yang mendatangkan murkaMU 

Ya Allah ya Rahiim, berikanlah haji saudara-saudara kami menjadi haji yang mabrur, haji yang bisa memberi manfaat buat diri mereka secara pribadi, yakni pahala Syurga dan dan haji yang berdampak positif buat keluarga dan masyarakat disekitarnya. 

Ya Allah, terimalah Qurban saudara-saudara kami, jadikan itu sebagai amal ibadah disisimu 

Ya Allah, berikanlah kami yang belum melaksanakan rukun islam yang kelima ini, untuk secepatnya bisa melaksanakannya, kami memohon kepadaMu, jangan engkau panggil kami untuk meninggalkan dunia ini, sebelum kami bisa menginjakkan kaki kami kerumahMu untuk melaksanakan haji, Kami juga ingin menginjakkan kaki kami di masjid RosulMu Muhammad SAW, kami ingin berziarah kemaqomnya ya Allah, begitu besar rasa rindu ini kepadanya. 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

و السلام عليكم ورحمة اللهِ وبركا تــه
»»  READMORE...

MENGAPA ZAT TUHAN TIDAK BISA KITA KETAHUI?

Oleh: Prof. mulyadhi KartaNegara

Sudah lama para filosof berbicara tentang ketidakmungkinan kita mengenal zat atau esensi Tuhan, sehingga muncullah istilah negative theology atau "via negativa." Kaum Neo-Platonis menyebut Tuhan, the Great Unknown. Kaum Taois di cina, pernah mengatkan, kalau ada orang yang mengatakan inilah Tao, maka pasti itu bukanlah Tao. Budha sendiri juga memandang sia-sia orang menanyakan tentang hakikat Tuhan. Ketika ditanya apa itu Tuhan, beliau menjawab, lebih baik kita tidak menanyakan itu, tapi tanyakan bagaimana cara mendekatkan diri pada-Nya. 

Pertanyaannya mengapa, tak bisa diketahui? Jawaban al-Qur'an adalah "karena tak ada suatu apapun yang sama atau serupa dengan-Nya." (ليس كمثله شيئ). Jadi apapun yang kita bayangkan tentang Tuhan, apapun konsep kita tentangnya, maka pastilah ia merujuk pada sesuatu, padahal telah jelas bahwa Ia berbeda dengan sesuatu apapun. KeberbedaN Tuhan dengan apapaun termasuk dengan manusia yang dirujuk oleh para Sudi sebagai "tanzih." Karena sifat tanzih inilah maka tidak akan ada jalan bagi manusia untuk mengetahi Allah. 

Lalu bagaimna untuk mengenal-nya? Ketika zat Allah tidak bisa dikenal karena aspek tanzihnya, untungnya Ia bisa dikenal lewat aspek tasybih-Nya, yakni keserupaan yang ada antara Tuhan dan manusia, bukan dalam hal zat-Nya, tapi lewat sifat-sifat-Nya. Manusia sebagai cermin Tuhan, berbagi sifat-sifat tertentu dengan-Nya. Bukankah Allah bersifat mengetahui, hidup dan berkehendak, dan bukankah sifat-sifat ini juga dimiliki oleh manusia? Nah adanya keserupaan (tasybih) antara keduanya inilah yang menyebabkan manusia berkemungkinan mengenal Allah dari aspek sifat-sifat atau dalam istilah Qur'annya nama-nama (asma)-Nya. Kalau tidak, mengapa Ia mengenalkan nama-nama-Nya kepada manusia. Kenyataan bahwa Ia mengenalkan nama-nama-Nya lewat wahyunya, menjadi bukti bagi para sufi tentang kemungkinan manusia untuk mengetahui Tuhannya. 

»»  READMORE...