Social Icons

Featured Posts

Tingkat Kebahagiaan di dunia

  1. kebahagiaan atau lebih tepatnya kesenangan fisik dan indrawi seperti makan, minum, dan sex, memiliki harta dan badan yang sehat, dll.
  2. kebahagiaan mental, seperti ketika kita mengaktualkan daya imaginasi kita dalam bentuk novel, lukisan dan puisi.
  3. kebahagiaan emosional, seperti ketika emosi kita menjadi dorongan yang positif ke arah aktualisasi.
  4. kebahagiaan intelektual, tercapai misalnya ketika kita mampu menangkap ilmu yang sejati dan mengaktualkan potensi tersebut dalam bentuk karya-karya ilmiah yang agung.
  5. kebahagiaan moral, ketika kita mampu untuk mempraktekkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya pengenalan kognitif terhadap nilai-nilai tsb.
  6. kebahagiaan spiritual, sebagai kebahagian puncak, di mana kita merasakan hidup yang damai, tenang damai karena dekat dengan sumber dari segala yang ada, sumber keindahan dan cinta, yaitu Allah swt.
Apabila anda sudah mencapai itu semua, maka barulah barangkali kita bisa dikatakan telah mencapai kebahagiaan sejati dan abadi.
»»  READMORE...

Syariat Islam Tidak Perlu diformalkan

Jihad saat ini bukan dengan mengangkat pedang atau senapan. Jihad di jaman ini adalah jihad ekonomi, pedang ekonomi dan pendidikan. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme dan lemahnya keyakinan, bukan ‘nonMuslim’. Dan itu semua menjadi sebab tumbuh terorisme.
Ayat-ayat tentang qital (perang) seluruhnya bersifat depensif; mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan. Tidak ada dalam sejarahnya Rasulullah Saw. membunuh nonMuslim apalagi Muslim. Rasul menjaga hak hidup bangsa-bangsa, nonMuslim sekalipun.

Yang menjadikan 1 orang/kelompok/komunitas/bangsa sah diperangi bukan karena ia nonMuslim melainkan ‘al-harabah/harbi’; melakukan penyerangan. Dalam Piagam Madinah Rasulullah Saw. menjamin kebebasan beragama antara Muslim, Yahudi dan keyakinan lainnya. Dengan komitmen yang sama.

Kita juga perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara, apapun namanya tidak efektif dalam transformasi agama dalam masyarakat. Bandingkan proses Islamisasi di Andalusia dan Indonesia. Islamisasi di Andalusia dengan formal kekuasaan, Indonesia melalui kebudayaan.

Indonesia dijajah sejak tahun 1500 oleh Portugis, Belanda dan Jepang, penduduk Muslim 99%. Dan Anda lihat bagaimana fakta di Andalus! Andalusia yang mempunyai ulama kaliber Ibn Malik, Ibn Rusydi dll, luluh lantah. Masih mau memformalkan syariat Islam?

Tidak ada Negara Muslim yang bebas melakukan praktik keagamaan sebaik Indonesia, HTI bebas berteriak, NU, Muhammadiyah, dll berdampingan. Negara Islam itu ilusi, bagaimana mungkin menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan khilafah. Perebutan 1 pulau saja berpuluh-puluh tahun.

Persoalan semacam ini yang membuat banyak negara Islam sangat tertinggal dalam segala aspek. Pemimpinnya sibuk mengurusi muslim-muslim radikal. Energinya habis untk melawan bangsa sendiri; terorisme, radikalisme, fanatisme dan perang saudara antara Sunni-Syi’ah. Kapan membangun?

Umat Islam bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Jika ada yang kurang mari kita perbaiki bertahap. Jangan beri kesempatan sekecil apapun perpecahan, jaga NKRI. Satu kali mereka tumbuh, maka kita menambah ‘daftar’: Afganistan, Irak, Syiria, Mesir.

Perbedaan itu dinamika, pedang, senapan dan bom bukan penyelesaian. Negara ini sesuai dengan syariat, cukup, dan tidak perlu diformalkan. Al-Quran mengajarkan toleransi: “Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah...” (QS. al-An’am ayat 108). Ini untuk nonMuslim, bagaimana dengan Muslim?

Mari rekatkan persaudaraan dan persatuan. Rajut keutuhan NKRI. Hormati pemimpin, aparat, TNI-POLRI dan pemerintah, rawat kebinekaan. Kita jaga negara tercinta ini. NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati, NKRI harga mati. Teriakkan itu dimanapun/kapanpun. Bersama kita menyongsong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan kita akan selalu optimis. Sekali lagi NKRI harga mati.

Sumber: Kultweet Habib Luthfi bin Yahya, Rais ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah (JATMAN): @HabibluthfiYahy 4 Agustus 2014.
»»  READMORE...

Idul Fitri; Hari Kemenangan

Hari Raya Idul Fitri populer dikenal sebagai “Hari Kemenangan”. Kalau itu dianggap sebagai “Hari Kemenangan“ maka kemenangan tersebut bukanlah kemenangan akhir. Ia – bagi yang benar-benar meraih kemenangan -baru menang dalam satu pertempuran - belum lagi kemenangan dalam peperangan. Peperangan melawan nafsu dan setan tidak berhenti dengan hadirnya Idul Fitri tetapi berlanjut selama hayat dikandung badan, karena nafsu dan setan menyertai manusia selama hidupnya dan setan telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia – dari arah kiri dan kanan- atas dan bawah – menyesatkannya sampai dengan detik terakhir dari hayat manusia (Q.S. Al-Araf [7]: 17).

Kemenangan melawan setan dan nafsu ditandai oleh tertawan dan terkendalinya syahwat dan teratasinya rayuan setan yang mengantar pemenang patuh mengikuti perintah agama, akal dan budaya. Bukan sebaliknya, karena jika sebaliknya, maka itulah kekalahan bahkan perbudakan manusia oleh setan dan nafsu.

Di sisi lain harus disadari bahwa kemenangan bermacam-macam. Ada yang hanya menghasilkan kelezatan jasmani; makan, minum dan seks. Jelas bukan itu yang dikehendaki oleh kemenangan setelah bepuasa walau memang dengan Idul Fitri kita telah memperoleh kebebasan dalam batas-batas tertentu untuk makan, minum dan seks.

Kemenangan hakiki adalah yang mengantar kepada diraihnya nilai-nilai spiritual, yang tidak bisa dipisahkan dari fithrah dalam arti kesucian – yang mencakup tiga unsur pokok yaitu: Keindahan, Kebenaran, dan Kebaikan. Upaya mencari yang benar menghasilkan ilmu, melakukan yang baik membuahkan budi dan mengekspresikan keindahan melahirkan seni. Karena itu pula peperangan yang perlu kita menangkan adalah peperangan melawan aneka keburukan seperti kebodohan, kemiskinan, penyakit dan kezaliman.

Kemenangan hakiki menghasilkan pencerahan akal dan jiwa sekaligus penyerahan diri -raga, rasa, dan pikir- kepada Allah swt. Kemenangan hakiki menghasilkan pengakuan atas kebenaran walau pengakuan itu tidak sejalan dengan keinginan nafsu atau dorongan setan. Itu sebabnya yang kalah dinilai sebagai pemenang jika ia mengakui secara ksatria kekalahannya, karena ketika itu ia berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya yang berkolusi dengan setan.

Sebaliknya, yang menang dinilai kalah jika itu diperolehnya melalui proses yang terlepas dari nilai-nilai etik dan spiritual karena ketika itu ia dikuasi oleh nafsu dan setan. Itu juga sebabnya kemenangan hakiki tidak selalu harus dikaitkan dengan hasil dan karena itu pula kegagalan dapat menjadi kemenangan yang tertunda, ini jika yang kalah dapat mengambil pelajaran dari kegagalannya.

Di sisi lain, kemenangan hakiki tidak dapat diperoleh tanpa bantuan Allah, baik kemenangan menghadapi nafsu dan setan, maupun kemenangan di bidang politik, militer atau aktivitas apapun. Allah menegaskan bahwa, Kemenangan tidak bersumber kecuali dari sisi Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. Ali Imran [3]: 126), bahkan Allah menegaskan bahwa: Bukan engkau – Wahai Nabi Muhammad – yang membunuh mereka, tetapi Allah yang membunuh mereka, bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi Allah Yang melempar… (Q.S. Al-Anfal [8]: 17).

Dalam suasana menjelang Idul Fitri, yang dikenal dengan nama “Hari Kemenangan” itu, pemenang dalam Pilpres 2014 diumumkan dan dirayakan kemenangannya. Tetapi, harus diingat bahwa pemenang tidaklah dinilai menang kalau kemenangannya hanya dinikmati oleh pendukungnya saja. Kemenangannya harus dinikmati oleh seluruh bangsa bahkan harus berdampak kepada lingkungan seluas mungkin.

Akhirnya, Taqabbala Allahu Minna Wa Minkum Minal Aidin Wa Al-Faizin. Semoga Allah menerima ibadah dan doa kita dan semoga kita kembali ke Fithrah Kesucian dan meraih kemenangan abadi dengan hidup damai di dunia dan diakhirat. Maaf lahir dan batin. [M. Quraish Shihab]

»»  READMORE...

Semoga Kembali Suci dengan Ramadhan kali ini

Dengan keadaan yang sudah sangat berubah dari tahun-tahun sebelumnya, ramadhan kali ini kami sekeluarga menjalankan puasa di tempat yang baru, dan Alhamdulillah kehidupan kami lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, walaupun secara materi kehidupan kami sama seperti orang kebanyakan. Namun yang membuat saya sangat bersyukur, Allah masih memberi kami panjang umur dan ada niat untuk melakukan Ibadah yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kami sangat berharap mudah-mudahan bisa ditemukan kembali dibulan ramadhan tahun depan, kerena kami ingin meningkatkan ibadah dan berharap bisa berjumpa lagi dengan malam lailatul Qodar. aamiin

diakhir ramadhan ini, kami menyadari belum maksimal melakukan ibadah di bulan ini, apalagi untuk melakukan qiyamul lail, padahal begitu banyak waktu yang Allah berikan. inilah kelalaian kami sebegai manusia yang begitu banyak dosa yang dilakukan, sehingga kenikmatan dan kelezatan ibadah belum dirasakan. ampunilah kami ya Allah.....

Kepada sesama manusia, khususnya kepada kedua orang tua dan kepada kedua mertua, kami mohon maaf kerena belum bisa membuat mereka bangga dengan hadirnya kami, inilah anakmu yang selalu bisa mengeluh dan ingin selalu dimanjakan dan diperhatikan, mohon maafkan kami..

kepada pasangan hidupku, terima kasih yang begitu dalam dari lubuk hati, kau telah begitu banyak mengabdikan dirimu untuk keluarga, merawat anak-anak, memberi kebahagian dan kehangatan yang tak terhingga dalam hari-hari kami, kau begitu spesial dalam kehidupan kami, kami ucapkan permohonan maaf kerena kahadiran kami belum sepunuhnya membuatmu bahagia....

kepada anak-anakku.... tetaplah menjadi anak yang sholeh dan sholehah, kerena engkau adalah dambaan keluarga... kehadiranmu membuat kami sangat bahagia, dan kami mohon maaf belum bisa menuruti semua kenginanmu, tapi yakinlah kami ingin engau kelak menjadi orang yang berguna bagi lingkungan semasamu..

Mari kita berharap, mudah2an ramadhan kali ini bisa membuat kita kembali kefitri, menjadi insan yang terhapus dari dosa, baik dosa kepada Allah sang pencipta, dan dosa sesama manusia.. dan kita berharap semoga Allah menerima segala yang kita lakukan di dunia ini dan dicatat sebagai orang yang beruntung di akhirat kelak. aamiin.....
»»  READMORE...