Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mulyadi Kartanegara

PENEMU BUKAN PENCIPTA

Gambar
Segala apa yang kita ketahui hanyalah sebuah penemuan atas apa yang telah Allah ciptakan di alam semesta. Jadi bukankah ciptaan kita. Kita kemudian hanya mencoba memahami sifat dasar (nature)-nya secara ilmiah dan rasional untuk kemudian kita manfaatkan bagi kehidupan kita.  Karena itu kadang saya merasa heran terhadap beberapa ilmuwan yang setelah menemukan dan mendalami apa yang diciptakan Allah, kemudian menolak keberadaan Allah seperti yang dilakukan Laplace, setelah mempelajari hukum alam kemudia mengatakan Tuhan hanyalah hipotesa ilmiah yang kini tidak diperlukan lagi.dan mendeklarasi bahwi ilmu yang didapatkannya adalah karya dan ciptaan mereka. Dan alam mereka bayangkan terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Semoga kita tidak tertular penyakit sekuler mereka dan terhindar dari sijsp sombong mereka! Oleh: Prof.Dr. Mulyadi Kartanegara

DAFTAR BUKU PROF MULYADHI KARTANEGARA

Berikut ini adalah Ini judul-judul bukunya beserta harganya: silakan bagi yang ingin pesan sudah boleh memesan sekarang: Renungan Mistik Jalaluddin Rumi, Pustaka Jaya 1986., 40 Sejarah Filsafat Islam (Translation of Majid.Fakhry’s A History of Islamic Philosophy), Pustaka jaya 1986, 100

JADILAH SEPERTI PELAMPUNG

Oleh: Mulyadhi Kartanegara Kalau gak salah Rumi pernah berkata: "Jadilah seperti pelampung, yang di manapun berada ia akan tetap muncul di permukaan." Selintas, ungkapan tersebut seperti tak begitu istimewa, karena ya begitulah sifat dari pelampung. Tapi ada makna lain yang lebih dalam dari ungkapan tersbut, yang begitu berarti tapi tak selalu mudah untuk dicapai. Dengan ungkapan tersebut, sesungguhnya Rumi mengingankan kita, untuk senantiasa menjadi orang yang senantiasa berada di posisi atas, yakni menjadi orang yang terkemuka, seperti halnya pelampung, atau menjadi pemimpin, di mana pun kita berada: di kampung asal kitakah, di kantor tempat kita bekerjakah, di lingkungan baru di mana kita tinggalkah, hendaknya kita terus menjadi orang yang terkemuka atau pemimpin. Bukan menjadi pemuka atau pemimpin dengan cara merebut kedudukan orang lain, tetapi menjadi pemimpin karena sifat dasar dan kepemimpinan kita sendiri, karena keperdulian kita pada masyarakat di sekitar, kesi...

MENGAPA ZAT TUHAN TIDAK BISA KITA KETAHUI?

Oleh: Prof. mulyadhi KartaNegara Sudah lama para filosof berbicara tentang ketidakmungkinan kita mengenal zat atau esensi Tuhan, sehingga muncullah istilah negative theology atau "via negativa." Kaum Neo-Platonis menyebut Tuhan, the Great Unknown . Kaum Taois di cina, pernah mengatkan, kalau ada orang yang mengatakan inilah Tao, maka pasti itu bukanlah Tao. Budha sendiri juga memandang sia-sia orang menanyakan tentang hakikat Tuhan. Ketika ditanya apa itu Tuhan, beliau menjawab, lebih baik kita tidak menanyakan itu, tapi tanyakan bagaimana cara mendekatkan diri pada-Nya.  Pertanyaannya mengapa, tak bisa diketahui? Jawaban al-Qur'an adalah "karena tak ada suatu apapun yang sama atau serupa dengan-Nya." (ليس كمثله شيئ). Jadi apapun yang kita bayangkan tentang Tuhan, apapun konsep kita tentangnya, maka pastilah ia merujuk pada sesuatu, padahal telah jelas bahwa Ia berbeda dengan sesuatu apapun. KeberbedaN Tuhan dengan apapaun termasuk dengan manusia yang...

REALISASI-DIRI SEBAGAI AKTUALISASI-DIRI

Oleh: Mulyadhi. Kartanegara  A. Mengenal Potensi Diri  MENURUT Abraham Maslow kebutuhan manusia yang paling tinggi, setelah makanan, cinta dan rasa aman adalah realisasi-diri. Menurut saya realisasi-diri itu sama dengan aktualisasi-diri, dan aktualisasi diri tak lain dari pada mengaktualkan segala potensi yang dimiliki oleh diri kita. Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mampu mengaktualkan diri, sementara kita tak tahu apa potensi-potensi diri kita. Oleh karena itu berikut ini saya ingin mendiskusikan potens-potensi diri yang Allah berikan kepada manusia, sebagai syarat bagi pengaktualan diri. Ada setidaknya ada 6 potensi diri:  (1) potensi fisik. Allah menciptakan tubuh manusia dengan segala fungsi atau potensinya yang luar biasa. Salah satunya adalah potensi gerak. Sistem kerangka, otot dan saraf telah memungkinkan tubuh kita untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Sistem persendian yang beragam menyebabkan tubuh manusia sebagai mesin ...

MAKAN SEBAGAI OBAT

Oleh : Mulyadhi Kartanegara Seorang sarjana Yahudi yang hidup di ingkungan Islam di Andalus yang bernama Musa bin Maymun, dalam bukunya Tadbir al-Shihhah, mengatakan bahwa makan itu obat, ya jelasnya obat bagi penyakit yang namanya lapar. Lalu ada yang berkomentar, "ya semua orang juga tau.. ga perlu dibilang lagi." Tapi kita tidak akan mengambil banyak pelajaran kalau hanya berhenti di situ. Kita harus terus mencoba mengungkap apa makna di balik ucapannya yang sederhana tsb, mengingat bahwa beliau adalah ahli kedokteran yang hebat, yang mengabdi pada Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Tekanannya bukan pada laparnya, tapi pada kata "obat." Obat apapun kalau mau efektif, maka kita harus tahu takaran atau dosisnya. Oleh karena itu, kalau makan dikatakan sebagai obat, kitapun harus tahu dosisnya. Jangan sampai kekuarangan tapi juga jangan sampai over dosis, karena kalau keduanya terjadi, bisa jadi kita akan sakit. Jadi selayaknya kita tahu takaran bagi makanan kita,...

EMOSI, INSPIRASI DAN KREATIVITAS

Oleh : Mulyadhi Kartanegara  SIANG ini saya ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa saya dari singapura tentang hubungan emosi, inspirasi dan kreativitas. Emosi biasanya selalu dipandang secara negatif, padahal menurut saya emosi adalah daya hidup yang sebenarnya. Boleh dikata tanpa emosi seorang manusia telah mati, sekalipun ia masih bernafas. Peanyaannya adalah apa dan bagaimana sebenarnya hubungan antara emosi dan inspirasi? Sebagai dosen saya sering mendengar mahasiswa mengeluh dan berkata lirih karena sulitnya mencari inspirasi untuk menulis tugas akademiknya. Inspirasi tidak akan datnag kalau emosi kita tidak terketuk. Sekali emosi kita terketuk, misalnya oleh hinaan, kekecewaan, kemarahan atau oleh asmara, maka tiba-tiba kita menemukan jiwa kita penuh dengan inspirasi dan kata-kata. Mereka yang sedang jatuh cinta, sangat merindukan kekasihnya tiba-tiba dirinya dipenuhi dengan kata-kata. Maka mulailah ia menulis puisi cinta yang indah. Seribu katapun berhamburan dalam puisinya...

Tingkat Kebahagiaan di dunia

kebahagiaan atau lebih tepatnya kesenangan fisik dan indrawi seperti makan, minum, dan sex, memiliki harta dan badan yang sehat, dll. kebahagiaan mental, seperti ketika kita mengaktualkan daya imaginasi kita dalam bentuk novel, lukisan dan puisi. kebahagiaan emosional, seperti ketika emosi kita menjadi dorongan yang positif ke arah aktualisasi. kebahagiaan intelektual, tercapai misalnya ketika kita mampu menangkap ilmu yang sejati dan mengaktualkan potensi tersebut dalam bentuk karya-karya ilmiah yang agung. kebahagiaan moral, ketika kita mampu untuk mempraktekkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya pengenalan kognitif terhadap nilai-nilai tsb. kebahagiaan spiritual, sebagai kebahagian puncak, di mana kita merasakan hidup yang damai, tenang damai karena dekat dengan sumber dari segala yang ada, sumber keindahan dan cinta, yaitu Allah swt. Apabila anda sudah mencapai itu semua, maka barulah barangkali kita bisa dikatakan telah mencapai kebahagiaan sej...

MUTIARA DI DASAR LAUT

Gambar
Oleh: Prof. Mulyadhi Kartanegara JALAL AL-DIN RUMI pernah mengumpamakan makrifat dengan mutiara yang masih berada dalam kerang, sedangkan kerang itu masih di dasar laut. "Karena mutiara selalu memikat hati orang, maka banyaklah orang yang datang ke laut untuk mendapatkannya. Setelah melihat dengan teliti, seseorang di antara pengunjung bertanya: 'Mana mutiara itu? Aku tidak melihatnya, padahal orang-orang mengatakan bahwa mutiara itu di laut.' Tentu saja mutiara tidak bisa dilihat apalagi dimiliki hanya dengan melihat laut, karena mutiara itu berada di dasar laut. Ini berarti bahwa makrifat tidak bisa diperoleh hanya dengan mengandalkan "indera lahiriah," karena ia berada jauh di lubuk hati seseorang, sehingga tersembunyi kepadanya. Lalu datanglah seseorang dengan sebuah usul yang brilian, "karena kerang itu ada di dasar laut, maka kita harus menimba laut agar kering, sehingga mutiara-mutiaravtersebut dapat dengan mudah kita temukan." Tapi, k...

INDERA, AKAL DAN HATI

Gambar
Oleh: Prof. Mulyadhi Kartanegara Salah satu kerinduan manusia adalah untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, agar diperoleh suatu pengetahuan yang meyakinkan. Salah satu contoh historis dari pencarian serius dan tak kunjung padam adalah apa yang dilakukan al-Ghazali. Dalam bukunya yang terkenal "Keluar dari Kemelut" (al-Minqidz minal-Dhalal), ia melukiskan pencariannya yang intensif akan kebenaran. Dan dalam karya ini jugalah ia mendiskusikan tentang indera, akal dan hati.  Dalam karya otobiografis intelektual ini, ia mengungkapkan keinginannya untuk mengetahui segala sesuatu, termasuk kepercayaan agama, seyakin-yakinnya, sebagaimana keyakinannya kepada kebenaran matematik: tiga lebih kecil dari sepuluh. Kalau ada orang yang mengatakan sebaliknya, bahwa 10 lebih kecIl dari 3, kepercayaan saya bahwa 3 lebih kecil sari 10, tetap tidak akan goyah, sekalipun orang itu dapat mengobah tongkat jadi ular. Oleh karena itu, maka ia mencoba mencari sumber pengetahuan y...

KEBENARAN SATU, EKSPRESI BERAGAM

Gambar
Ada satu pertanyaan yang mungkin timbul ketika kita menyadari kenyataan bahwa walaupun para sufi mengklaim telah mendapatkan penyingkapan (mukasyafah), namun mereka ternyata memiliki ajaran yang beragam, yaitu: mengapa terjadi keragaman ajaran para sufi, padahal kebenaran itu satu adanya? Pertanyaan ini sebenarnya telah mengantar kita pada satu kenyataan bahwa meskipun kebenaran itu satu, tetapi ekspresi para sufi terhadap kebenaran itu bisa beragam dan berbeda-beda. Alasan mengapa itu terjadi adalah: pertama, kebenaran itu terlalu luas untuk bisa dipahami sekaligus oleh seorang individu, siapapun dia, termasuk oleh seorang sufi. Kedua, karena tiap-tiap sufi memiliki concern masing-masing, sesuai dengan tantangan yang berkembang pada masanya. Ketiga, karena Tuhan mengekspresikan diri-Nya secara terus-menerus dan berubah-ubah setiap saat. Prof. Mulyadhi Kartanegara Untuk memudahkan pemahaman kita, ambillah sebuah contoh yang kongkret. Andaikan diadakan pameran elektronik inte...

MAKRIFAT, PENGETAHUAN SEJATI

Gambar
Oleh : Prof. Mulyadi Kartanegara  Pengantar: Mulai fasal 21 kita mendiskusikan tentang makrifat, setelah sebelumnya kita mendiskusikan soal Hakikat: Deskripsi Ontologis Realitas. Seperti dalam bab II, bab ini juga akan memuat 16 fasal tentang segala yang berhubungan dengan makrifat. Ketika kita menyebut Makrifat sebagai pengetahuan sejati, ini tidak berarti bahwa jenis pengetahuan yang lain, yang disebut Ilm, adalah ilmu yang tidak benar. Kita menyebutnya pengetahuan sejati, karena makrifat merupakan jenis pengetahuan yang berbeda dari ilmu-ilmu lainnya yang menghasilkan isi dan metode yang juga berbeda. Ilmu pengetahuan ('ilm), biasanya diperoleh melalui otoritas orang lain, baik itu melalui seorang guru atau buku, dan karena itu disebut sebagai ilmu perolehan ('ilm hushuli). Ini berarti bahwa ilmu-ilmu tersebut diperoleh secara tidak langsung dan kebenarannya didasarkan pada otoritas para pendahulu dan tidak dialami oleh sang pencari ilmu sendiri. Dikatakan tid...

MANUSIA DAN KEBEBASAN MEMILIHNYA

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara Di antara makhluk Tuhan, manusia adalah makhluk yang paling istimewa. Betapa tidak, manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan yang diberi kebebasan memilih sebagai "amanah" yang tidak sanggup diemban oleh langit, bumi, gunung dan lain-lain. Dan ini berangkali sebagai konsekwensi logis dari kekhalifahannya di muka bumi. Jadi, sebagai khalifah, atau wakil Tuhan di muka bumi, manusia diberi Tuhan bukan hanya segala apa yang ada di muka bumi, tetapi juga kebebasan memilih yang merupakan hadiah yang paling istimewa dari Tuhan, yang patut kita semua syukuri.  Kebebasan memilih (ikhtiyar) yang dimiliki manusia ini telah dipandang semu oleh kaun Jabariyyah, Asy'ariyya, dan bahkan juga oleh sebagian sufi. Tetapi kebebasan memilih ini telah dibela dan diperkokoh oleh Jala al-Din Rumi dengan argumen-argumen yang nampak sederhana tetapi sangat menghunjam hati. Bagi kaum Jabariyyah kebebasan yang kita miliki hanyalah semu. Nampaknya saja seper...

MANUSIA: CERMIN TUHAN

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara Seperti telah disinggung sebelumnya, manusia disebut "mikrokosmos" karena pada dirinya terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineraal hingga tingkat manusia. Bahkan, manusia juga mengandung unsur-unsur ruhani, karena manusia juga memiliki ruh yang berasal dari dunia ruhani. Masing-masing tingkat wujud ini memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, maka, manusia yang mengandung seluruh unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat ilahi, dus, menjadi cermin bagi Tuhan. Meskipun begitu perlu dikatakan bahwa manusia baru secara potensial saja dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, karena percerminan itu baru bisa teraktual hanya pada manusia yang telah mengaktualkan seluruh potensi kemanusiaannya, yaitu ketika manusia telah mencapai tingkat insan kamil atau manusia paripurna. Insan kamil telah menjadi tema sentral bagi beberapa sufi besar, terutama Ibn 'Arabi dan para pengikutnya. Salah seorang pengi...

EVOLUSI ALAM

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara Sejauh ini kita telah melukiskan alam secara relatif deskriptif, dalam arti menggambarkan tingkat-tingkat eksistensi secara statis. Kita menggambarkan mereka sebagai sesuatu yang seakan tersekat ke dalam kategori-kategori ontologis yang mapan. Tetapi Jalal al-Din Rumi memberikan sebuah penggambaran alam yang sangat dinamis, di mana dijelaskan bahwa telah terjadi sebuah proses evolutif di alam semesta dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi. Inilah yang kita maksud dengan teori "evolusi alam" dalam wacana tasawuf. Sesungguhnya jauh sebelum masa hidup Rumi (1207-1274) proses transmutasi alam, terutama pada tingkat mineral, telah dilukiskan secara terperinci oleh seorang ahli kimia dan sekaligus sufi, yang bernama Jabir b. Hayyan, yang hidup di awal abad kesembilan. Jabir melihat bahwa telah terjadi transmutasi evolisioner pada benda-benda inorganik, dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Jabir b. H...

MANUSIA: TUJUAN AKHIR PENCIPTAAN

Oleh: Prof. Mulyadi Kartanegara Yang paling menonjol dari pandangan para Sufi tentang manusia adalah dijadikannya manusia sebagai tujuan akhir penciptaan alam semesta. Tentu saja pandangan ini didasarkan pada otoritas sebuah hadis Qudsi yang mengatakan, "lawlaka walawlaka ma khalaqtul-a'lam kullaha," yang artinya, "Kalau bukan karena engkau (ya Muhammad), takkan Kuciptakan alam semesta." Engkau dalam hadis di atas tentu saja Nabi Muhammad, tetapi Nabi di sini ditafsirkan oleh para sufi sebagia simbol manusia sempurna (al-insan al-kamil), yaitu bentuk manusia yang telah mencapai kesempurnaannya, yakni ketika ia telah mengaktualkan seluruh potensi kemanusiaannya. Pandangan seperti itu telah dianut oleh beberapa sufi terkenal seperti Ibn 'Arabi (w. 1240), Shadr al-Din al-Qunawi (w. 1274), Jalal al-Din Rumi dan 'Abd al-Karim al-Jili . Untuk mendeskripsikan bagaimana menusia telah menjadi tujuan akhir penciptaan alam, Rumi menganalogikan manusia den...