Nasihat Hikmah: Bersihkan Empat Perkara dengan Empat Perkara
قَالَ حَكِيمٌ:
«اغْسِلُوا أَرْبَعًا بِأَرْبَعٍ: اغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ بِدُمُوعِ النَّدَمِ، وَاغْسِلُوا أَلْسِنَتَكُمْ بِذِكْرِ خَالِقِكُمْ، وَاغْسِلُوا ذُنُوبَكُمْ بِالتَّوْبَةِ، وَاغْسِلُوا قُلُوبَكُمْ بِخَشْيَةِ اللَّهِ.»
Artinya:
"Seorang yang bijaksana berkata: Bersihkanlah empat perkara dengan empat perkara. Bersihkanlah wajah kalian dengan air mata penyesalan, bersihkanlah lisan kalian dengan mengingat Sang Pencipta, bersihkanlah dosa-dosa kalian dengan taubat, dan bersihkanlah hati kalian dengan rasa takut kepada Allah."
Nasihat singkat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang taubat, dzikir, penyesalan atas dosa, dan cara membersihkan hati. Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Namun, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa, melainkan orang yang menyadari kesalahannya kemudian kembali kepada Allah سبحانه وتعالى.
1. Bersihkan Wajah dengan Air Mata Penyesalan
اغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ بِدُمُوعِ النَّدَمِ
"Bersihkanlah wajah kalian dengan air mata penyesalan."
Air mata yang keluar karena menyesali dosa merupakan tanda bahwa hati masih memiliki rasa takut dan kesadaran kepada Allah.
Penyesalan adalah bagian penting dari taubat. Ketika seseorang mengingat kesalahan yang pernah dilakukan, kemudian hatinya merasa sedih dan menyesal karena telah melanggar perintah Allah, maka perasaan tersebut seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki diri.
Jangan sampai dosa membuat seseorang semakin jauh dari Allah. Sebaliknya, jadikan kesalahan sebagai jalan untuk kembali kepada-Nya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Air mata karena penyesalan bukan tanda kelemahan. Dalam kehidupan seorang mukmin, air mata tersebut dapat menjadi tanda kelembutan hati dan kesadaran bahwa dirinya membutuhkan ampunan Allah.
2. Bersihkan Lisan dengan Dzikir kepada Allah
وَاغْسِلُوا أَلْسِنَتَكُمْ بِذِكْرِ خَالِقِكُمْ
"Bersihkanlah lisan kalian dengan mengingat Sang Pencipta."
Lisan merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan lisan, seseorang dapat membaca Al-Qur'an, berdzikir, bershalawat, memberikan nasihat, mengajarkan ilmu, dan mengucapkan perkataan yang baik.
Namun, lisan juga dapat menjadi sumber dosa apabila digunakan untuk ghibah, fitnah, dusta, mencela, atau perkataan yang menyakiti orang lain.
Karena itu, salah satu cara menjaga lisan adalah memperbanyak dzikir kepada Allah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd: 28)
Membiasakan lisan dengan dzikir juga membantu seseorang mengurangi perkataan yang tidak bermanfaat.
Mulailah dengan dzikir yang sederhana:
سُبْحَانَ اللَّهِ
"Mahasuci Allah."
الْحَمْدُ لِلَّهِ
"Segala puji bagi Allah."
اللَّهُ أَكْبَرُ
"Allah Mahabesar."
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
"Aku memohon ampun kepada Allah."
Semakin sering lisan mengingat Allah, semakin besar kesempatan hati untuk ikut mengingat-Nya.
3. Bersihkan Dosa dengan Taubat
وَاغْسِلُوا ذُنُوبَكُمْ بِالتَّوْبَةِ
"Bersihkanlah dosa-dosa kalian dengan taubat."
Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Karena itu, pintu taubat merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Taubat bukan sekadar mengucapkan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ dengan lisan. Taubat harus disertai kesadaran dan usaha untuk meninggalkan dosa.
Secara umum, taubat kepada Allah mencakup beberapa hal: meninggalkan dosa, menyesali perbuatan tersebut, dan memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka hak tersebut juga perlu diselesaikan sesuai keadaan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya."(QS. At-Tahrim: 8)
Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk bertaubat.
Jangan berkata, "Nanti kalau sudah tua saya akan bertaubat."
Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang.
Jika hari ini kita menyadari sebuah kesalahan, maka hari ini pula kita memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah.
4. Bersihkan Hati dengan Rasa Takut kepada Allah
وَاغْسِلُوا قُلُوبَكُمْ بِخَشْيَةِ اللَّهِ
"Bersihkanlah hati kalian dengan rasa takut kepada Allah."
Hati adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Perbuatan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan hatinya.
Khasy-yah (خَشْيَة) kepada Allah bukan sekadar rasa takut. Ia merupakan rasa takut yang lahir bersama pengenalan, pengagungan, dan kesadaran terhadap kebesaran Allah.
Orang yang memiliki rasa takut kepada Allah akan lebih berhati-hati dalam kehidupannya.
Ketika sendirian, ia tetap berusaha meninggalkan maksiat karena mengetahui bahwa Allah selalu melihatnya.
Ketika memiliki kesempatan melakukan sesuatu yang haram, ia mengingat Allah.
Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
Ketika melakukan kesalahan, ia segera memohon ampun.
Inilah salah satu bentuk menjaga dan membersihkan hati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."(QS. Al-Hujurat: 13)
Empat Nasihat untuk Membersihkan Diri
Jika diringkas, nasihat tersebut memberikan empat jalan untuk memperbaiki diri:
Yang Dibersihkan| Caranya
Wajah| Dengan air mata penyesalan
Lisan| Dengan dzikir kepada Allah
Dosa| Dengan taubat
Hati| Dengan khasy-yah kepada Allah
Keempatnya saling berkaitan.
Penyesalan membuat kita sadar terhadap kesalahan.
Dzikir menjaga lisan agar tidak dipenuhi perkataan yang buruk.
Taubat menjadi jalan untuk meninggalkan dosa.
Khasy-yah kepada Allah menjaga hati agar tidak mudah kembali kepada kemaksiatan.
Jangan Biarkan Hati Mati karena Dosa
Salah satu bahaya dosa bukan hanya pada perbuatan itu sendiri, tetapi ketika seseorang mulai terbiasa melakukan dosa tanpa merasa bersalah.
Hari ini melakukan kesalahan, tetapi tidak menyesal.
Besok mengulanginya lagi.
Lama-kelamaan hati menjadi keras dan nasihat tidak lagi memberikan pengaruh.
Karena itu, selama masih memiliki kesempatan hidup, jangan pernah berhenti memperbaiki diri.
Jika pernah berbuat dosa, bertaubatlah.
Jika lisan pernah menyakiti orang lain, perbaikilah ucapan.
Jika hati mulai lalai, perbanyaklah dzikir.
Jika merasa jauh dari Allah, kembalilah kepada-Nya.
Kesimpulan
Nasihat "Bersihkan empat perkara dengan empat perkara" mengajarkan kepada kita bahwa membersihkan diri bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga tentang kebersihan hati, lisan, dan amal.
Bersihkan wajah dengan air mata penyesalan.
Bersihkan lisan dengan dzikir kepada Allah.
Bersihkan dosa dengan taubat.
Dan bersihkan hati dengan khasy-yah kepada Allah.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang lembut, lisan yang senantiasa berdzikir, kemampuan untuk meninggalkan dosa, serta kekuatan untuk selalu kembali kepada-Nya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, bersihkanlah hati kami, dan perbaikilah amal-amal kami."
Aamiin.