Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kajian Asmaul Husna

Pengajian Asmaul Husna 02 : Mengenal Asma Allah Arrahman

 Makna Ar-Rahmān

Dari Asmā’ul-Ḥusnā, salah satunya adalah الرَّحْمَـٰنُ (Ar-Rahmān).


Seringkali kita maknai Ar-Rahmān dengan “Maha Pengasih”. Itu makna secara ringkas. Namun, lebih dalam lagi, Ar-Rahmān adalah yang memberikan nikmat-nikmat besar yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.


Contohnya:

Dia memberikan ruh kepada kita.

Dia memberikan akal kepada kita.

Dia memberikan iman kepada kita.


Nikmat-nikmat tersebut tidak bisa dibuat atau diberikan oleh hamba mana pun, hanya Allāh yang bisa memberikannya. Maka dari itu, tidak boleh ada makhluk diberi nama Ar-Rahmān, karena itu adalah nama khusus bagi Allāh.

الرَّحْمَـٰنُ adalah yang kebaikan-Nya meliputi semuanya:


Orang beriman.

Orang kafir.

Seluruh makhluk.


Orang kafir pun bisa hidup, bisa senang, itu karena Ar-Rahmān.

Kisah Majusi dan Nabi Ibrāhīm عليه السلام

Dalam Risālah al-Qusyairiyyah, disebutkan:

Ada seorang Majusi berumur 70 tahun datang kepada Nabi Ibrāhīm عليه السلام meminta makan. Nabi Ibrāhīm berkata:


"Jika engkau masuk Islam, aku beri makan."

Majusi itu menjawab:

"Aku tidak akan merubah agamaku hanya karena makanan.

Ia pun pergi dalam keadaan lapar. Maka Allāh berfirman kepada Nabi Ibrāhīm:

"Apakah engkau tidak mau memberinya makan kecuali dia masuk Islam? Padahal Aku telah memberinya kehidupan dan nikmat lebih dari 70 tahun dalam kekafirannya."

Mendengar wahyu itu, Nabi Ibrāhīm langsung mengejar si majusi, mengajaknya makan. Si majusi heran dengan perubahan sikap itu. Setelah tahu alasannya, ia berkata

"Kalau seperti itu Tuhanku, ajarkan aku Islam!"

Lalu ia pun masuk Islam.

Kisah Ibrāhīm bin Adham dan Burung Gagak

Dalam kitab Mafātīḥ al-Ghayb karya Imam Fakhruddīn ar-Rāzī:


Ibrāhīm bin Adham bercerita:

Aku bertamu ke suatu kampung dan diberi hidangan roti. Tiba-tiba datang burung gagak menyambar sepotong roti dan terbang. Aku ikuti burung itu, ternyata ia menuju semak-semak tempat ada seorang manusia yang terpasung. Burung itu memberi makan orang yang terpasung tersebut.


Ini semua adalah rancangan Allāh yang bernama Ar-Rahmān, yang memberi kasih sayang dengan cara yang tidak bisa dilakukan manusia.


Kisah Ḏzun-Nūn al-Miṣrī dan Si Kala

Ḏzun-Nūn al-Miṣrī rahimahullāh berkata:

Aku berjalan ke Sungai Nil, melihat seekor kala (binatang) berlari cepat. Aku mengikutinya. Kala itu naik ke belakang seekor kuda, menyeberangi sungai, lalu turun dan menuju ke sebuah pohon besar. Di sana ada seorang lelaki sedang tidur, dan seekor ular hendak menggigitnya.


Kala itu lalu bertarung dengan ular hingga keduanya mati, dan laki-laki itu pun selamat.


Siapa yang mengatur semua itu kalau bukan Ar-Rahmān?


Ar-Rahmān Meringankan Azab Kubur

Dalam sebuah ḥadīts riwayat dari Nabi ﷺ:

Nabi melewati dua kubur dan berkata:

"Keduanya sedang disiksa, bukan karena dosa besar. Yang satu karena tidak berhati-hati saat buang air, sehingga najis, yang satu lagi karena suka mengadu domba.”

Lalu Nabi mengambil pelepah kurma, membelah dua, dan menancapkannya di atas kubur tersebut. Beliau bersabda:

"Selama pelepah ini basah, azabnya diringankan."


Inilah Ar-Rahmān, yang meringankan azab karena kebaikan orang hidup.

Buah Keimanan kepada Ar-Rahmān

Menurut Imam al-Ghazālī rahimahullāh:

1. Menyayangi orang yang lalai terhadap Allāh.

2. Memandang orang yang bermaksiat dengan kasih sayang, bukan dengan hinaan.

3. Menganggap maksiat yang dilakukan orang lain sebagai musibah bagi dirinya sendiri, sehingga ia berusaha memperbaikinya dengan kemampuan yang ia punya.


Kisah Pemuda yang Ingin Berzina

Diriwayatkan dalam ḥadīts dari Abū Umāmah raḍiyallāhu ʿanhu:

Seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk berzina. Para sahabat marah. Nabi ﷺ bertanya kepadanya:


"Apakah kamu senang ibumu dizinai?"

"Tidak."

Demikian juga untuk anak perempuan, saudari, dan kerabatnya. Lalu Nabi meletakkan tangan di dada pemuda itu dan mendoakan:

> اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

"Ya Allāh, ampunilah dosanya, sucikan hatinya, dan jagalah kemaluannya."

Pemuda itu berkata, setelah itu zina adalah hal yang paling ia benci

---


Kisah Maʿrūf al-Karkhī

Maʿrūf al-Karkhī dan murid-muridnya berada di tepi Sungai Tigris. Sebuah kapal penuh dengan pemuda-pemudi bersenang-senang lewat. Murid-muridnya meminta beliau mendoakan keburukan. Namun beliau berdoa:


"Yā Allāh, bahagiakanlah mereka di akhirat sebagaimana Engkau bahagiakan mereka di dunia."

Jika Allāh membahagiakan mereka di akhirat, artinya mereka akan bertobat di dunia.

Amalan untuk Menumbuhkan Akhlak Ar-Rahmān

Para ulama ahli ḥikmah mengatakan:

Bacalah "Yā Raḥmān" 100 kali setiap selesai ṣalat fardhu.

Ini akan melembutkan hati, menumbuhkan kasih sayang kepada orang yang bermaksiat, dan memberikan kemuliaan di sisi Allāh.

Semoga kita dapat beriman kepada nama Allāh yang kedua ini, "Ar-Rahmān", dan semoga iman tersebut membuahkan akhlak yang mulia dalam diri kita. Āmīn.

Pengajian Asmaul Husna 01 : Mengenal Asmaul Husna ALLAH

 Makrifat Asmaul Husna

Mengenal nama-nama Allah yang indah dan mulia, al-asmā’ al-ḥusnā (الأسماء الحسنى), akan menuntun kita untuk mengenal sifat-sifat-Nya yang luhur. Karena nama-nama itu menunjukkan kepada sifat-Nya, dan mengenal sifat-sifat Allah akan membawa kita kepada makrifat terhadap dzat-Nya yang Mahasuci. Inilah impian orang-orang yang memiliki akal sehat.


Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn."

Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku." (QS. Az-Zāriyāt: 56)


Makna "liya‘budūn" (لِيَعْبُدُونِ) menurut sebagian ulama adalah "liya‘rifūn" (لِيَعْرِفُونَ) — agar mereka mengenal-Ku.


Tiga Golongan Manusia dalam Makrifat

Dalam usaha mengenal Allah, manusia terbagi menjadi tiga kelompok:


1. Lā ‘aql lahum (لا عقل لهم) – Orang-orang yang tidak punya akal.

Mereka hanya kenal kepada makhluk, tidak kenal kepada al-Khāliq (الخالق), Sang Pencipta. Seperti kambing yang kenal pada penggembalanya, tapi tidak kenal kepada pemiliknya. Manusia semacam ini hanya peduli kepada makhluk, ingin dipuji, ingin diperhatikan, dan beramal agar disukai makhluk. Mereka tidak kenal dan tidak ingin kenal kepada Allah. Ibadah mereka pun hanya untuk dilihat manusia.


2. Na‘ūmun ‘aqluhu sَaqīm (نَعُومٌ عَقْلُهُ سَقِيمٌ) – Orang-orang yang punya akal, tapi akalnya sakit.

Mereka ingin nikmat dari Allah, ingin masuk surga, ingin dijauhkan dari musibah, tapi tidak ingin mengenal Allah. Tujuannya hanya kesenangan, bukan ma‘rifatullah. Mereka ibadah agar diberi rezeki, agar selamat, agar masuk surga, tapi tidak ada keinginan dalam hati untuk mengenal siapa Allah.


3. Dzul ‘aqlin salīm (ذُو الْعَقْلِ السَّلِيم) – Orang yang berakal sehat.

Merekalah yang ingin mengenal Allah, ingin dekat kepada-Nya. Bila mendapat nikmat, mereka melihat kepada yang memberi nikmat, bukan kepada nikmat itu sendiri. Inilah orang yang berakal sehat. Kalau mendapat rezeki, dia ingin tahu: siapa yang memberi? Bila dapat keamanan dan kelapangan, dia bertanya dalam hati: siapa yang mengatur semua ini? Maka dia mencari Allah.


Makna Nama "Allah"

Rasulullah Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya (memeliharanya), maka ia akan masuk surga." (HR. Muslim)

Makna "memelihara" (أَحْصَاهَا) mencakup tiga perkara: menghafalnya, memahaminya, dan mengimaninya.


Nama pertama dari al-Asmā’ al-Ḥusnā adalah:

اللَّه

Menurut Imām al-Ghazālī raḥimahullāh:

> "Ismun li al-mawjūd il-ḥaqq, al-jāmi‘ li ṣifāt al-ulūhiyyah, al-mutafaṛrid bi al-wujūd al-ḥaqīqī."

"Allah adalah nama bagi Dzat yang benar-benar ada, yang menghimpun seluruh sifat-sifat ke-Tuhanan, dan yang bersendiri dengan keberadaan yang hakiki."

Maksudnya, Allah adalah Dzat yang wajib ada (wājib al-wujūd). Segala sesuatu selain-Nya adalah mumkin al-wujūd (mungkin ada, mungkin tidak), dan keberadaannya tergantung kepada kehendak Allah.


Langit, bumi, matahari, semua "diadakan" oleh Allah. Artinya, yang benar-benar ada hanyalah Allah. Sedangkan yang lain hanyalah sesuatu yang diadakan dan bisa saja ditiadakan oleh-Nya.


Sifat Rubūbiyyah dan Ulūhiyyah

Allah adalah Dzat yang bersifat:

1. Rubūbiyyah (الرُّبُوبِيَّة) – menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, menolong, dan sebagainya.


2. Ulūhiyyah (الأُلُوهِيَّة) – yang berhak disembah, dipuji, ditaati, dicintai, ditakuti, dan diharapkan.

Contoh:

Jika kita berdoa: يَا رَبِّ (Ya Rabbī), artinya: Wahai Tuhan yang menciptakan, memberi rezeki, menolong, menghidupkan, dan mematikan.


Jika kita berdoa: يَا إِلٰهِي (Yā Ilāhī), artinya: Wahai Tuhan yang berhak disembah, dicintai, ditaati, dan diharapkan.

Tapi jika kita berdoa: يَا اللَّهُ atau اللَّهُمَّ, maka itu mencakup kedua sifat: rubūbiyyah dan ulūhiyyah sekaligus.


Kenapa Nama "Allah" Paling Agung?

Menurut Imām al-Ghazālī:

> "Ismu Allāh huwa a‘ẓamu asmā’illāh, li-annahu yadullu ‘ala al-Dzāt."

"Nama 'Allah' adalah nama yang paling agung, karena ia menunjukkan kepada Dzat."


Berbeda dengan nama seperti الرَّحْمٰن (yang menunjukkan sifat kasih sayang), atau العَلِيم (yang menunjukkan sifat ilmu), nama اللَّه menunjukkan kepada dzat-Nya secara langsung.

---

Faedah Dzikir dengan Lafaz "Allah"

Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak ada dzikir dengan lafaz "Allah" secara tunggal. Yang ada adalah dzikir dengan:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، سُبْحَانَ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Kelompok ini termasuk Ibnu Taimiyyah dan yang sepaham dengannya.


Namun, ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa dzikir dengan lafaz "Allah" (yaitu اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...) itu boleh dan diajarkan.


Di antaranya adalah:

Imām Abū al-‘Abbās al-Mursī, guru dari pengarang kitab al-Ḥikam. Beliau berkata:


> "Liyakun dhikruka: Allāh, Allāh, fainna hādzā al-ism sulṭān al-asmā’."

"Hendaklah dzikirmu adalah 'Allah, Allah', karena ini adalah rajanya Asma’ul Ḥusnā."

Manfaat Zikir “Allah, Allah”

Tujuannya untuk menanamkan dan membuahkan empat hal dalam hati:


1. Tidak melihat sesuatu kecuali ingat kepada Allah

2. Tidak menoleh kepada selain Allah.

3. Tidak berharap kecuali kepada Allah.

4. Tidak takut kecuali kepada Allah.


Jika ingin mendapatkan empat faedah tersebut, maka perbanyaklah dzikir اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...

Lakukan seribu kali sehari: 500 kali siang, 500 kali malam. Bisa dilakukan 10–15 menit.

Kata guru kami, Habib Abū Bakar bin Sālim, kalau ingin hati hidup dan merasa dekat kepada Allah, maka dzikirlah "Allāh, Allāh, Allāh" sampai masuk ke dalam hati.


Buah Iman kepada Nama “Allah”

Jika seseorang benar-benar beriman bahwa:

  • Allah adalah satu-satunya Dzat yang wajib ada,
  • Segala sesuatu selain-Nya hanyalah diadakan oleh-Nya,
  • Hanya Allah yang memiliki sifat Rubūbiyyah dan Ulūhiyyah,

maka keimanan itu akan membuahkan empat akhlak agung, yaitu:

  1. لَا يَرَى إِلَّا إِلَى اللَّهِ
  2. Tidak melihat kecuali kepada Allah.
  3. Artinya, setiap yang dilihat selalu mengingatkan dirinya kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemilik.
  4. لَا يَلْتَفِتُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ
  5. Tidak menoleh (mengharap perhatian) kecuali kepada Allah.
  6. Dia tidak peduli dengan pujian atau celaan makhluk selama dirinya berada di jalan yang diridhai oleh Allah.
  7. لَا يَرْجُو إِلَّا اللَّهَ
  8. Tidak berharap kecuali kepada Allah.
  9. Dalam ibadahnya, yang diharapkan hanya ridha Allah, bukan surga atau kenikmatan dunia.
  10. لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ
  11. Tidak takut kecuali kepada Allah.
  12. Dia meninggalkan maksiat semata-mata karena takut kepada Allah, bukan karena takut dihukum manusia.

Barang siapa memiliki keempat sikap ini, maka ia termasuk:

ٱلْمُؤْمِنُ بِٱسْمِ اللَّهِ

Orang yang benar-benar beriman kepada nama Allah.


Anjuran Mengamalkan Zikir "Allah, Allah"

Untuk mencapai tingkatan tersebut, perbanyaklah berdzikir dengan lafaz:

اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...

Bisa diamalkan:

  • 1000 kali per hari (500 kali siang, 500 kali malam), atau
  • 2000 kali sehari bagi yang mampu.

Tujuannya agar hati menjadi:

  • Sadar bahwa semua yang dilihat berasal dari Allah,
  • Tidak bergantung pada makhluk,
  • Hanya berharap kepada Allah,
  • Hanya takut kepada Allah.

Kata para ulama:

"Barang siapa membiasakan zikir ini dengan penuh kesungguhan, maka ia akan mendapatkan buah keimanan yang sejati."