Pengajian Asmaul Husna 01 : Mengenal Asmaul Husna ALLAH
Makrifat Asmaul Husna
Mengenal nama-nama Allah yang indah dan mulia, al-asmā’ al-ḥusnā (الأسماء الحسنى), akan menuntun kita untuk mengenal sifat-sifat-Nya yang luhur. Karena nama-nama itu menunjukkan kepada sifat-Nya, dan mengenal sifat-sifat Allah akan membawa kita kepada makrifat terhadap dzat-Nya yang Mahasuci. Inilah impian orang-orang yang memiliki akal sehat.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn."
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku." (QS. Az-Zāriyāt: 56)
Makna "liya‘budūn" (لِيَعْبُدُونِ) menurut sebagian ulama adalah "liya‘rifūn" (لِيَعْرِفُونَ) — agar mereka mengenal-Ku.
Tiga Golongan Manusia dalam Makrifat
Dalam usaha mengenal Allah, manusia terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Lā ‘aql lahum (لا عقل لهم) – Orang-orang yang tidak punya akal.
Mereka hanya kenal kepada makhluk, tidak kenal kepada al-Khāliq (الخالق), Sang Pencipta. Seperti kambing yang kenal pada penggembalanya, tapi tidak kenal kepada pemiliknya. Manusia semacam ini hanya peduli kepada makhluk, ingin dipuji, ingin diperhatikan, dan beramal agar disukai makhluk. Mereka tidak kenal dan tidak ingin kenal kepada Allah. Ibadah mereka pun hanya untuk dilihat manusia.
2. Na‘ūmun ‘aqluhu sَaqīm (نَعُومٌ عَقْلُهُ سَقِيمٌ) – Orang-orang yang punya akal, tapi akalnya sakit.
Mereka ingin nikmat dari Allah, ingin masuk surga, ingin dijauhkan dari musibah, tapi tidak ingin mengenal Allah. Tujuannya hanya kesenangan, bukan ma‘rifatullah. Mereka ibadah agar diberi rezeki, agar selamat, agar masuk surga, tapi tidak ada keinginan dalam hati untuk mengenal siapa Allah.
3. Dzul ‘aqlin salīm (ذُو الْعَقْلِ السَّلِيم) – Orang yang berakal sehat.
Merekalah yang ingin mengenal Allah, ingin dekat kepada-Nya. Bila mendapat nikmat, mereka melihat kepada yang memberi nikmat, bukan kepada nikmat itu sendiri. Inilah orang yang berakal sehat. Kalau mendapat rezeki, dia ingin tahu: siapa yang memberi? Bila dapat keamanan dan kelapangan, dia bertanya dalam hati: siapa yang mengatur semua ini? Maka dia mencari Allah.
Makna Nama "Allah"
Rasulullah Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya (memeliharanya), maka ia akan masuk surga." (HR. Muslim)
Makna "memelihara" (أَحْصَاهَا) mencakup tiga perkara: menghafalnya, memahaminya, dan mengimaninya.
Nama pertama dari al-Asmā’ al-Ḥusnā adalah:
اللَّه
Menurut Imām al-Ghazālī raḥimahullāh:
> "Ismun li al-mawjūd il-ḥaqq, al-jāmi‘ li ṣifāt al-ulūhiyyah, al-mutafaṛrid bi al-wujūd al-ḥaqīqī."
"Allah adalah nama bagi Dzat yang benar-benar ada, yang menghimpun seluruh sifat-sifat ke-Tuhanan, dan yang bersendiri dengan keberadaan yang hakiki."
Maksudnya, Allah adalah Dzat yang wajib ada (wājib al-wujūd). Segala sesuatu selain-Nya adalah mumkin al-wujūd (mungkin ada, mungkin tidak), dan keberadaannya tergantung kepada kehendak Allah.
Langit, bumi, matahari, semua "diadakan" oleh Allah. Artinya, yang benar-benar ada hanyalah Allah. Sedangkan yang lain hanyalah sesuatu yang diadakan dan bisa saja ditiadakan oleh-Nya.
Sifat Rubūbiyyah dan Ulūhiyyah
Allah adalah Dzat yang bersifat:
1. Rubūbiyyah (الرُّبُوبِيَّة) – menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, menolong, dan sebagainya.
2. Ulūhiyyah (الأُلُوهِيَّة) – yang berhak disembah, dipuji, ditaati, dicintai, ditakuti, dan diharapkan.
Contoh:
Jika kita berdoa: يَا رَبِّ (Ya Rabbī), artinya: Wahai Tuhan yang menciptakan, memberi rezeki, menolong, menghidupkan, dan mematikan.
Jika kita berdoa: يَا إِلٰهِي (Yā Ilāhī), artinya: Wahai Tuhan yang berhak disembah, dicintai, ditaati, dan diharapkan.
Tapi jika kita berdoa: يَا اللَّهُ atau اللَّهُمَّ, maka itu mencakup kedua sifat: rubūbiyyah dan ulūhiyyah sekaligus.
Kenapa Nama "Allah" Paling Agung?
Menurut Imām al-Ghazālī:
> "Ismu Allāh huwa a‘ẓamu asmā’illāh, li-annahu yadullu ‘ala al-Dzāt."
"Nama 'Allah' adalah nama yang paling agung, karena ia menunjukkan kepada Dzat."
Berbeda dengan nama seperti الرَّحْمٰن (yang menunjukkan sifat kasih sayang), atau العَلِيم (yang menunjukkan sifat ilmu), nama اللَّه menunjukkan kepada dzat-Nya secara langsung.
---
Faedah Dzikir dengan Lafaz "Allah"
Sebagian ulama menyatakan bahwa tidak ada dzikir dengan lafaz "Allah" secara tunggal. Yang ada adalah dzikir dengan:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، سُبْحَانَ اللَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Kelompok ini termasuk Ibnu Taimiyyah dan yang sepaham dengannya.
Namun, ada juga ulama lain yang mengatakan bahwa dzikir dengan lafaz "Allah" (yaitu اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...) itu boleh dan diajarkan.
Di antaranya adalah:
Imām Abū al-‘Abbās al-Mursī, guru dari pengarang kitab al-Ḥikam. Beliau berkata:
> "Liyakun dhikruka: Allāh, Allāh, fainna hādzā al-ism sulṭān al-asmā’."
"Hendaklah dzikirmu adalah 'Allah, Allah', karena ini adalah rajanya Asma’ul Ḥusnā."
Manfaat Zikir “Allah, Allah”
Tujuannya untuk menanamkan dan membuahkan empat hal dalam hati:
1. Tidak melihat sesuatu kecuali ingat kepada Allah
2. Tidak menoleh kepada selain Allah.
3. Tidak berharap kecuali kepada Allah.
4. Tidak takut kecuali kepada Allah.
Jika ingin mendapatkan empat faedah tersebut, maka perbanyaklah dzikir اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...
Lakukan seribu kali sehari: 500 kali siang, 500 kali malam. Bisa dilakukan 10–15 menit.
Kata guru kami, Habib Abū Bakar bin Sālim, kalau ingin hati hidup dan merasa dekat kepada Allah, maka dzikirlah "Allāh, Allāh, Allāh" sampai masuk ke dalam hati.
Buah Iman kepada Nama “Allah”
Jika seseorang benar-benar beriman bahwa:
- Allah adalah satu-satunya Dzat yang wajib ada,
- Segala sesuatu selain-Nya hanyalah diadakan oleh-Nya,
- Hanya Allah yang memiliki sifat Rubūbiyyah dan Ulūhiyyah,
maka keimanan itu akan membuahkan empat akhlak agung, yaitu:
- لَا يَرَى إِلَّا إِلَى اللَّهِ
- Tidak melihat kecuali kepada Allah.
- Artinya, setiap yang dilihat selalu mengingatkan dirinya kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemilik.
- لَا يَلْتَفِتُ إِلَّا إِلَى اللَّهِ
- Tidak menoleh (mengharap perhatian) kecuali kepada Allah.
- Dia tidak peduli dengan pujian atau celaan makhluk selama dirinya berada di jalan yang diridhai oleh Allah.
- لَا يَرْجُو إِلَّا اللَّهَ
- Tidak berharap kecuali kepada Allah.
- Dalam ibadahnya, yang diharapkan hanya ridha Allah, bukan surga atau kenikmatan dunia.
- لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ
- Tidak takut kecuali kepada Allah.
- Dia meninggalkan maksiat semata-mata karena takut kepada Allah, bukan karena takut dihukum manusia.
Barang siapa memiliki keempat sikap ini, maka ia termasuk:
ٱلْمُؤْمِنُ بِٱسْمِ اللَّهِ
Orang yang benar-benar beriman kepada nama Allah.
Anjuran Mengamalkan Zikir "Allah, Allah"
Untuk mencapai tingkatan tersebut, perbanyaklah berdzikir dengan lafaz:
اللَّهُ، اللَّهُ، اللَّهُ...
Bisa diamalkan:
- 1000 kali per hari (500 kali siang, 500 kali malam), atau
- 2000 kali sehari bagi yang mampu.
Tujuannya agar hati menjadi:
- Sadar bahwa semua yang dilihat berasal dari Allah,
- Tidak bergantung pada makhluk,
- Hanya berharap kepada Allah,
- Hanya takut kepada Allah.
Kata para ulama:
"Barang siapa membiasakan zikir ini dengan penuh kesungguhan, maka ia akan mendapatkan buah keimanan yang sejati."

Komentar
Posting Komentar