Tanda-Tanda Orang yang Memiliki Ilmu Bermanfaat Menurut Islam

Tanda-Tanda Orang yang Memiliki Ilmu Bermanfaat Menurut Islam

Ilmu merupakan salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Namun, tidak semua ilmu secara otomatis menjadikan seseorang lebih baik. Dalam Islam, ilmu yang benar dan bermanfaat seharusnya memberikan pengaruh terhadap akhlak, sikap, dan perilaku seseorang.

Salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah lahirnya sifat rendah hati. Orang yang benar-benar memahami ilmu tidak menjadikan pengetahuannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sebagaimana sebuah nasihat yang sangat indah:

«مِنْ عَلَامَاتِ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ أَنَّهُمْ لَا يَرَوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ حَالًا وَلَا مَقَامًا، وَيَكْرَهُونَ بِقُلُوبِهِمُ التَّزْكِيَةَ وَالْمَدْحَ، وَلَا يَتَكَبَّرُونَ عَلَى أَحَدٍ»

«“Di antara tanda-tanda orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat adalah mereka tidak menganggap dirinya memiliki kedudukan atau keadaan yang istimewa. Mereka membenci dengan hati mereka pujian dan sanjungan terhadap diri sendiri, serta tidak menyombongkan diri kepada siapa pun.”»

Nasihat tersebut mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk akhlaknya.

Apa yang Dimaksud dengan Ilmu yang Bermanfaat?
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa seseorang semakin dekat kepada kebaikan, memperbaiki amal, serta memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Seseorang mungkin memiliki banyak pengetahuan, mampu berbicara dengan baik, memiliki banyak gelar, atau dikenal oleh banyak orang. Namun, semua itu belum menjadi ukuran utama bahwa ilmunya telah memberikan manfaat kepada dirinya.

Ilmu yang bermanfaat semestinya membuat seseorang semakin mengenal Allah, semakin berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, serta semakin menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.

Dengan demikian, salah satu buah dari ilmu adalah tawadhu atau rendah hati.

1. Tidak Menganggap Dirinya Memiliki Kedudukan Istimewa
Kalimat:
لَا يَرَوْنَ لِأَنْفُسِهِمْ حَالًا وَلَا مَقَامًا
mengandung pelajaran tentang sikap tidak merasa memiliki kedudukan khusus karena ilmu yang dimilikinya.

Orang berilmu tidak menjadikan ilmu sebagai alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain. Ia tetap menghargai manusia, baik yang memiliki banyak pengetahuan maupun yang masih dalam proses belajar.

Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui.

Sikap seperti inilah yang menjauhkan seseorang dari ujub dan kesombongan.

2. Tidak Menyukai Pujian dan Sanjungan terhadap Dirinya
Nasihat tersebut juga menyebutkan:

وَيَكْرَهُونَ بِقُلُوبِهِمُ التَّزْكِيَةَ وَالْمَدْحَ
Artinya, mereka tidak menyukai pujian dan sanjungan terhadap diri mereka.

Hal ini bukan berarti seseorang harus menolak setiap pujian secara mutlak. Namun, seorang yang memiliki ilmu bermanfaat tidak menjadikan pujian sebagai tujuan utama dalam beramal.

Ia tidak belajar hanya agar disebut pintar.
Ia tidak mengajar hanya agar disebut ustaz atau guru yang hebat.
Ia tidak menulis hanya agar mendapatkan pengakuan.
Ia tidak berbuat baik hanya agar mendapatkan pujian manusia.

Yang menjadi tujuan utamanya adalah mencari ridha Allah dan memberikan manfaat.

Pujian manusia dapat berubah. Hari ini seseorang dipuji, tetapi besok bisa saja dicela. Karena itu, menggantungkan kebahagiaan pada penilaian manusia dapat membuat hati mudah berubah.

3. Tidak Sombong kepada Orang Lain
Bagian terakhir dari nasihat tersebut berbunyi:

وَلَا يَتَكَبَّرُونَ عَلَى أَحَدٍ
“Dan mereka tidak menyombongkan diri kepada siapa pun.”
Ini merupakan salah satu tanda penting dari ilmu yang bermanfaat.

Seseorang yang memiliki ilmu seharusnya semakin mudah menghargai orang lain. Ia tidak merendahkan orang yang ilmunya lebih sedikit, tidak menghina orang yang berbeda kemampuan, dan tidak merasa dirinya selalu paling benar.

Perbedaan tingkat ilmu merupakan sesuatu yang wajar. Ada orang yang lebih mengetahui suatu bidang, sementara orang lain lebih memahami bidang yang berbeda.

Karena itu, ilmu semestinya menjadi jalan untuk saling membantu, bukan alasan untuk merendahkan.

Ilmu Seharusnya Melahirkan Akhlak
Ilmu dan akhlak tidak seharusnya dipisahkan.

Jika seseorang semakin banyak belajar tetapi semakin mudah merendahkan orang lain, semakin senang dipuji, dan semakin merasa dirinya paling tinggi, maka ia perlu kembali mengevaluasi bagaimana ilmu tersebut memengaruhi dirinya.

Sebaliknya, ketika ilmu membuat seseorang semakin santun, rendah hati, sabar, dan senang memberikan manfaat kepada orang lain, maka ilmu tersebut telah memberikan pengaruh yang baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat hal ini dalam berbagai bentuk.

Seorang guru tidak merendahkan muridnya.
Seorang ustaz tidak merasa lebih tinggi daripada jamaahnya.
Seorang siswa yang berprestasi tidak menghina temannya yang mendapatkan nilai lebih rendah.
Seorang yang lebih dahulu memahami agama tidak meremehkan orang yang sedang belajar.

Sebab, setiap orang memiliki proses perjalanan ilmu masing-masing.

Jangan Sampai Ilmu Menjadi Sebab Kesombongan
Ilmu merupakan amanah. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk mengamalkannya.

Ilmu yang tidak disertai keikhlasan dapat menjadi ujian bagi pemiliknya. Seseorang bisa saja mengetahui banyak hal, tetapi pada saat yang sama terjebak dalam keinginan untuk dikenal, dipuji, dan dihormati.

Karena itu, penting bagi setiap penuntut ilmu untuk selalu memperbaiki niat.

Belajar bukan sekadar untuk mendapatkan gelar.
Mengajar bukan sekadar untuk mendapatkan penghargaan.
Menulis bukan sekadar untuk mendapatkan popularitas.
Berdakwah bukan sekadar untuk mendapatkan banyak pengikut.

Semua aktivitas tersebut dapat menjadi ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang benar.

Tanda Ilmu yang Bermanfaat dalam Kehidupan Sehari-hari

Dari nasihat tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran tentang ciri-ciri orang berilmu yang bermanfaat, di antaranya:

1. Rendah hati, meskipun memiliki banyak pengetahuan.
2. Tidak haus pujian dan pengakuan manusia.
3. Tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
4. Menghargai orang yang sedang belajar.
5. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
6. Berusaha memperbaiki akhlak.
7. Tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk menyombongkan diri.
8. Semakin banyak ilmu, semakin sadar akan keterbatasan dirinya.

Penutup
Ilmu yang bermanfaat bukan hanya membuat seseorang lebih banyak tahu, tetapi juga membuatnya lebih baik dalam bersikap.

Orang yang benar-benar memahami ilmu akan menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan. Karena itu, ia tidak mudah merasa paling pintar, paling benar, atau paling mulia.

Nasihat:
مِنْ عَلَامَاتِ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ...
mengajarkan kepada kita bahwa salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah tawadhu, tidak mencintai pujian terhadap diri sendiri, dan tidak menyombongkan diri kepada siapa pun.

Semoga ilmu yang kita pelajari bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperbaiki hati, akhlak, dan amal kita.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا مُتَوَاضِعًا.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan hati yang rendah hati.

Komentar