Takut Menelan Setetes Air Saat Puasa, Tapi Tidak Takut Menelan Hak Orang Lain
Takut Menelan Setetes Air Saat Puasa
Ada sebagian orang yang begitu berhati-hati ketika menjalankan ibadah puasa.
Ketika berwudhu, ia takut air masuk ke tenggorokan. Ketika berkumur, ia tidak berani berlebihan karena khawatir puasanya batal. Bahkan setetes air yang tidak sengaja tertelan saja membuatnya merasa sangat takut.
Sikap seperti ini pada dasarnya menunjukkan adanya kehati-hatian dalam menjalankan ibadah.
Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian.
Mengapa kita begitu takut menelan setetes air yang dapat membatalkan puasa, tetapi tidak takut “menelan” hak orang lain yang dapat menjadi beban di akhirat?
Kita takut puasa batal karena setetes air, tetapi terkadang tidak takut mengambil uang yang bukan milik kita.
Kita takut memasukkan makanan ke dalam mulut saat siang hari Ramadan, tetapi tidak takut memasukkan harta haram ke dalam rumah.
Kita takut melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, tetapi kurang takut melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan pahala dan merusak hubungan kita dengan sesama manusia.
Inilah yang perlu kita renungkan.
Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar dan Dahaga
Puasa dalam Islam bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Puasa juga merupakan latihan untuk membentuk ketakwaan dan akhlak yang baik.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Perhatikan tujuan yang disebutkan dalam ayat tersebut.
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — agar kamu bertakwa.
Artinya, puasa seharusnya membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Setelah berpuasa, ia semakin takut kepada Allah, semakin menjaga lisannya, semakin jujur, semakin amanah, dan semakin berhati-hati terhadap hak orang lain.
Jangan sampai puasa hanya membuat kita lapar dan haus, tetapi tidak membuat akhlak kita menjadi lebih baik.
Hak Orang Lain Bukan Perkara Ringan
Salah satu perkara yang harus sangat diperhatikan oleh seorang Muslim adalah hak sesama manusia.
Hak orang lain bisa berbentuk banyak hal.
Bukan hanya uang.
Hak orang lain bisa berupa:
harta yang kita ambil tanpa izin;
utang yang sengaja tidak dibayar;
gaji pekerja yang ditahan;
barang yang kita curangi timbangannya;
keuntungan yang diperoleh melalui penipuan;
amanah yang kita khianati;
janji yang sengaja kita ingkari;
nama baik seseorang yang kita rusak;
ucapan yang menyakiti orang lain;
dan berbagai bentuk kezaliman lainnya.
Terkadang seseorang merasa dosa yang besar hanya berkaitan dengan ibadah kepada Allah.
Padahal, ada dosa yang berkaitan dengan hak manusia yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan istighfar.
Jika seseorang mengambil harta orang lain, misalnya, maka persoalannya bukan sekadar antara dirinya dengan Allah. Ada hak manusia yang harus dikembalikan.
Jangan Sampai Hanya Takut Puasa Batal
Kita memang harus berhati-hati terhadap hal-hal yang dapat membatalkan puasa.
Namun, kehati-hatian itu seharusnya tidak berhenti pada persoalan makan dan minum.
Kita juga harus bertanya kepada diri sendiri:
Apakah harta yang saya makan halal?
Apakah saya masih memiliki utang kepada orang lain?
Apakah ada amanah yang saya khianati?
Apakah ada hak orang lain yang belum saya kembalikan?
Apakah ada seseorang yang saya zalimi dengan perkataan atau perbuatan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting untuk kita renungkan.
Sebab, jangan sampai kita begitu teliti menjaga ibadah yang terlihat oleh manusia, tetapi lalai menjaga sesuatu yang berkaitan dengan hak manusia.
Puasa Seharusnya Membentuk Kejujuran
Orang yang benar-benar memahami makna puasa akan belajar menjadi pribadi yang jujur.
Ketika tidak ada seorang pun yang melihat, ia tetap merasa bahwa Allah melihatnya.
Ketika ia memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, ia memilih untuk meninggalkannya.
Ketika ia bisa berbuat curang tanpa diketahui orang lain, ia tetap memilih kejujuran.
Mengapa?
Karena ia memahami bahwa Allah tidak pernah luput mengawasi manusia.
Inilah salah satu nilai penting dari ibadah puasa.
Selama berpuasa, seseorang bisa saja makan dan minum secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada manusia yang mengetahuinya.
Namun ia meninggalkannya karena yakin Allah mengetahuinya.
Maka semestinya keyakinan tersebut juga berlaku dalam urusan harta, pekerjaan, perdagangan, amanah, dan hubungan dengan sesama manusia.
Jangan Mengambil Hak Orang Lain Demi Keuntungan Dunia
Dunia ini sementara.
Harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan.
Jabatan akan berakhir.
Popularitas akan hilang.
Bahkan tubuh yang kita jaga setiap hari pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
Namun, amal perbuatan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Karena itu, jangan sampai kita mendapatkan keuntungan dunia dengan cara mengambil hak orang lain.
Mungkin manusia tidak mengetahuinya.
Mungkin tidak ada kamera yang merekamnya.
Mungkin tidak ada orang yang menegurnya.
Tetapi Allah mengetahuinya.
Apa yang tersembunyi bagi manusia tidak pernah tersembunyi bagi Allah.
Menjaga Puasa dan Menjaga Hak Manusia Harus Berjalan Bersama
Seorang Muslim hendaknya memiliki dua bentuk kehati-hatian.
Pertama, berhati-hati terhadap apa yang dapat merusak ibadahnya.
Kedua, berhati-hati terhadap apa yang dapat merusak hubungannya dengan Allah dan manusia.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah ini membatalkan puasa?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah ini membuat Allah murka?”
Jangan hanya takut makanan dan minuman masuk ke dalam tubuh pada siang hari Ramadan.
Takutlah pula jika harta yang haram masuk ke dalam rumah kita.
Jangan hanya takut puasa kehilangan pahala karena satu kesalahan.
Takutlah jika kita memiliki hak orang lain yang belum kita selesaikan.
Mari Periksa Kembali Diri Kita
Ramadan dan ibadah puasa seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi.
Mari kita periksa kembali kehidupan kita.
Apakah masih ada hak orang lain yang kita ambil?
Apakah ada utang yang belum kita bayar?
Apakah ada amanah yang belum kita tunaikan?
Apakah ada kesalahan kepada orang lain yang belum kita minta maaf?
Apakah ada harta yang kita peroleh dengan cara yang tidak benar?
Jika ada, jangan menunda untuk memperbaikinya.
Kembalikan hak kepada pemiliknya.
Mintalah maaf jika kita telah menzalimi orang lain.
Lunasi utang jika kita mampu.
Tunaikan amanah.
Dan bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Penutup
Takut membatalkan puasa adalah sesuatu yang baik.
Namun, takutlah juga kepada dosa yang lebih besar daripada sekadar batalnya puasa.
Jangan sampai kita begitu hati-hati menjaga puasa dari setetes air, tetapi tidak hati-hati ketika mengambil hak orang lain.
Jangan sampai kita menjaga perut dari makanan dan minuman di siang hari, tetapi membiarkan hati dan tangan mengambil sesuatu yang bukan milik kita.
Karena hak orang lain bukan perkara ringan.
Puasa seharusnya tidak hanya menjadikan kita mampu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadikan kita lebih bertakwa, jujur, amanah, dan berhati-hati terhadap hak sesama manusia.
Semoga ibadah puasa kita bukan hanya sah secara hukum, tetapi juga memberikan perubahan nyata pada akhlak dan kehidupan kita.
Jangan hanya takut puasa batal. Takutlah jika setelah berpuasa, kita masih berani menzalimi orang lain.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar