Surga dikelilingi perkara yang tidak disukai
Surga Dikelilingi Perkara yang Tidak Disukai, Neraka Dikelilingi Syahwat
Ada sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang mengandung pelajaran sangat dalam tentang perjalanan manusia menuju surga dan neraka. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa jalan menuju surga tidak selalu mudah dan menyenangkan bagi hawa nafsu, sementara jalan menuju neraka justru sering dihiasi oleh berbagai kesenangan yang disukai manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat (kesenangan).” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Tidak semua yang terasa berat itu buruk, dan tidak semua yang terasa menyenangkan itu baik.
Makna Surga Dikelilingi Perkara yang Tidak Disukai
Yang dimaksud dengan “perkara yang tidak disukai” (al-makārih) adalah berbagai hal yang secara umum terasa berat bagi hawa nafsu manusia, tetapi merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Manusia pada dasarnya cenderung menyukai kenyamanan. Kita ingin tidur ketika harus bangun, ingin menikmati harta ketika diperintahkan bersedekah, ingin membalas ketika disakiti, dan ingin mengikuti keinginan ketika hawa nafsu mengajak kepada sesuatu yang dilarang.
Namun, seorang mukmin belajar untuk mengendalikan dirinya.
Ia tetap melaksanakan perintah Allah meskipun terkadang terasa berat.
1. Shalat Ketika Tubuh Ingin Beristirahat
Bangun pada waktu Subuh bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Kasur terasa nyaman dan tubuh masih ingin tidur.
Namun seorang Muslim meninggalkan kenyamanan tersebut untuk memenuhi panggilan Allah.
Begitu pula ketika seseorang sedang sibuk bekerja, belajar, atau melakukan aktivitas lainnya. Ketika waktu shalat tiba, ia meninggalkan kesibukannya untuk menghadap Allah.
Itulah perjuangan melawan hawa nafsu.
2. Menahan Diri dari Maksiat
Tidak semua godaan datang dalam bentuk sesuatu yang terlihat buruk. Sebagian maksiat justru tampak sangat menarik.
Pandangan yang haram mungkin menyenangkan mata.
Ghibah mungkin menyenangkan lisan.
Harta yang haram mungkin menyenangkan keinginan.
Hubungan yang dilarang mungkin menyenangkan hati.
Tetapi seorang mukmin tidak hanya melihat kesenangan sesaat. Ia memikirkan akibatnya di hadapan Allah SWT.
Karena itu, terkadang meninggalkan maksiat terasa berat, tetapi justru menjadi jalan menuju keselamatan.
3. Bersabar dalam Ketaatan
Menuntut ilmu, menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, berpuasa dan berbagai bentuk ibadah membutuhkan kesabaran.
Ada kalanya seseorang merasa malas.
Ada kalanya semangat menurun.
Ada kalanya tidak ada seorang pun yang melihat perjuangannya.
Namun ia tetap berusaha karena mengetahui bahwa Allah melihat setiap amalnya.
Inilah salah satu bentuk perjuangan menuju ridha Allah.
Neraka Dikelilingi oleh Syahwat
Sebaliknya, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa neraka dikelilingi oleh syahwat.
Syahwat dalam konteks hadis ini berkaitan dengan berbagai keinginan dan kesenangan yang dapat menyeret manusia kepada sesuatu yang dilarang Allah.
Inilah yang membuat jalan menuju kemaksiatan terkadang terlihat begitu menarik.
Seseorang mungkin merasa senang ketika mendapatkan harta dengan cara yang haram.
Ia mungkin merasa puas ketika membicarakan keburukan orang lain.
Ia mungkin menikmati kebebasan mengikuti hawa nafsunya.
Namun kesenangan tersebut tidak berlangsung selamanya.
Kesenangan dunia sangat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Jangan Menilai Kebaikan Hanya dari Rasa Nyaman
Salah satu pelajaran penting dari hadis ini adalah bahwa perasaan nyaman bukanlah ukuran utama kebenaran.
Ada sesuatu yang terasa berat tetapi sangat baik bagi kita.
Ada pula sesuatu yang terasa menyenangkan tetapi sebenarnya membawa kerusakan.
Seorang siswa mungkin tidak menyukai belajar setiap hari, tetapi ilmu yang diperolehnya memberikan manfaat.
Seseorang mungkin tidak suka menahan amarah, tetapi menahan amarah dapat menyelamatkannya dari dosa.
Seseorang mungkin berat mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah, tetapi sedekah menjadi sebab datangnya pahala dan keberkahan.
Begitu juga dengan berbagai bentuk ibadah lainnya.
Hawa nafsu ingin kenyamanan sekarang, sedangkan iman mengajarkan kita untuk memikirkan keselamatan di akhirat.
Mengapa Manusia Mudah Tergoda?
Karena manusia memang memiliki hawa nafsu.
Allah SWT memberikan manusia berbagai keinginan. Keinginan terhadap harta, makanan, pasangan, kedudukan, pujian dan berbagai kenikmatan dunia.
Semua itu bukan berarti harus dihilangkan. Namun, seorang Muslim harus belajar mengendalikan hawa nafsu agar tetap berada dalam batas yang Allah ridai.
Masalahnya bukan sekadar memiliki keinginan.
Masalahnya adalah ketika seseorang menjadikan keinginannya sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada perintah Allah.
Ketika hawa nafsu berkata, “Lakukan,” sementara syariat berkata, “Jangan,” di situlah keimanan seseorang diuji.
Jalan Menuju Surga Membutuhkan Perjuangan
Surga bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mengikuti semua keinginan.
Ada perjuangan yang harus dilakukan.
Kita harus berusaha menjaga shalat.
Kita harus belajar meninggalkan dosa.
Kita harus bersabar ketika menghadapi ujian.
Kita harus menjaga lisan.
Kita harus menjaga pandangan.
Kita harus mencari rezeki yang halal.
Kita harus berbuat baik kepada orang lain.
Dan kita harus terus bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Semua itu mungkin terasa berat pada awalnya.
Namun ketika hati telah terbiasa dengan ketaatan, sesuatu yang awalnya terasa berat dapat berubah menjadi kebutuhan dan kenikmatan bagi seorang mukmin.
Kesenangan Dunia Tidak Selamanya Menyenangkan
Jangan sampai seseorang tertipu oleh kesenangan dunia.
Dunia memang memiliki banyak kenikmatan. Tetapi semua kenikmatan itu sementara.
Harta bisa habis.
Kecantikan akan memudar.
Kekuatan akan melemah.
Kedudukan akan ditinggalkan.
Dan pada akhirnya manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan hawa nafsunya.
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Jangan Tertipu dengan Jalan yang Terlihat Indah
Jalan menuju maksiat terkadang dihiasi dengan kesenangan.
Sedangkan jalan menuju ketaatan terkadang dihiasi dengan perjuangan.
Karena itu, jangan tertipu hanya karena sebuah jalan terlihat mudah dan menyenangkan.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Ke mana jalan ini akan membawaku?”
Sebab yang paling penting bukan bagaimana rasanya ketika kita berjalan, tetapi di mana kita akan sampai.
Jika sebuah kesenangan membuat kita semakin jauh dari Allah, maka kita harus berhati-hati.
Sebaliknya, jika sebuah perjuangan membuat kita semakin dekat kepada Allah, maka jangan mudah menyerah hanya karena terasa berat.
Kesimpulan
Hadis “Surga dikelilingi perkara yang tidak disukai dan neraka dikelilingi syahwat” merupakan peringatan agar kita tidak menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin dalam kehidupan.
Jalan menuju surga membutuhkan iman, kesabaran, ketaatan dan perjuangan melawan hawa nafsu.
Sedangkan jalan menuju neraka dapat terlihat indah ketika seseorang hanya melihat kesenangan sesaat dan melupakan akibatnya.
Maka ketika kita merasa berat melakukan kebaikan, jangan langsung meninggalkannya.
Bisa jadi perasaan berat itulah bagian dari ujian menuju surga.
Dan ketika sebuah dosa terasa sangat menyenangkan, jangan langsung mengikutinya.
Bisa jadi kesenangan sesaat itu sedang menyeret kita menuju sesuatu yang sangat kita sesali di akhirat.
Jangan hanya mengejar apa yang menyenangkan hawa nafsu. Kejarlah apa yang mendatangkan ridha Allah SWT.
Pertanyaan untuk Renungan
Jika hari ini kita harus memilih antara sesuatu yang menyenangkan tetapi menjauhkan kita dari Allah dan sesuatu yang berat tetapi mendekatkan kita kepada Allah, mana yang akan kita pilih?
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk bersabar dalam ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, menundukkan hawa nafsu, dan memasukkan kita ke dalam Jannatun Na'im. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar