Sedikit Orang Berilmu, Banyak yang Pandai Berceramah: Mengapa Menuntut Ilmu Lebih Utama?
“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana sedikit orang yang memahami ilmu agama, namun banyak orang yang pandai berceramah. Sedikit orang yang memberi, tetapi banyak orang yang meminta. Pada masa itu, menuntut ilmu jauh lebih baik daripada sekadar memperbanyak amalan tanpa dasar ilmu.”
Nasihat tersebut mengandung peringatan yang sangat relevan untuk direnungkan, terutama di tengah perkembangan media sosial dan mudahnya seseorang menyampaikan ceramah, nasihat, maupun pendapat keagamaan kepada masyarakat luas.
Hari ini, seseorang dapat berbicara tentang agama hanya dengan bermodalkan sebuah akun media sosial. Dalam hitungan detik, sebuah potongan ceramah dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan orang.
Namun, banyaknya orang yang berbicara tentang agama tidak selalu berarti banyaknya orang yang benar-benar memahami ilmu agama.
Di sinilah pentingnya kembali memahami kedudukan ilmu sebelum amal.
Ilmu Adalah Dasar dalam Beramal
Dalam Islam, amal yang baik tidak cukup hanya dilakukan dengan semangat. Amal juga membutuhkan ilmu agar seseorang mengetahui apa yang benar, bagaimana cara melakukannya, kapan melakukannya, dan kepada siapa amal tersebut ditujukan.
Seseorang mungkin memiliki keinginan yang besar untuk beribadah. Namun tanpa ilmu, seseorang dapat melakukan sesuatu yang dianggap baik padahal tidak sesuai dengan tuntunan agama.
Karena itu, para ulama sejak dahulu memberikan perhatian besar terhadap kewajiban mempelajari ilmu sebelum beramal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ»
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.”(QS. Muhammad: 19)
Ayat tersebut diawali dengan perintah فَاعْلَمْ (fa'lam) yang berarti “maka ketahuilah”. Hal ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan memiliki kedudukan penting dalam menjalankan agama.
Sedikit yang Memahami, Banyak yang Berbicara
Salah satu fenomena yang perlu direnungkan adalah ketika orang yang benar-benar memahami ilmu semakin sedikit, sementara orang yang berbicara semakin banyak.
Berbicara di depan banyak orang memang tidak selalu menunjukkan seseorang memiliki pemahaman agama yang mendalam.
Kemampuan berbicara, menyampaikan cerita, membuat konten menarik, atau memiliki banyak pengikut di media sosial adalah sesuatu yang berbeda dengan penguasaan ilmu.
Seorang penceramah dapat memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik. Namun dalam persoalan fikih, akidah, tafsir, hadis, dan berbagai cabang ilmu Islam, tetap diperlukan proses belajar yang panjang.
Karena itu, jangan sampai popularitas seorang pembicara dijadikan satu-satunya ukuran kebenaran ilmu yang disampaikannya.
Banyak Penceramah, Tetapi Sedikit Ahli Ilmul
Perkembangan teknologi memberikan manfaat yang sangat besar bagi dakwah Islam.
Ceramah yang dahulu hanya dapat didengar oleh orang-orang yang hadir di masjid atau majelis ilmu, sekarang dapat ditonton dari mana saja.
Namun kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan.
Potongan video berdurasi satu menit terkadang membuat sebuah persoalan agama terlihat sangat sederhana, padahal pembahasannya membutuhkan penjelasan panjang dan konteks yang lengkap.
Seseorang mungkin mendengar satu hadis, kemudian langsung mengambil kesimpulan hukum tanpa mengetahui penjelasan para ulama mengenai hadis tersebut.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara:
- orang yang pandai berbicara dan orang yang mendalam ilmunya;
- orang yang terkenal dan orang yang memiliki kompetensi keilmuan;
- orang yang membuat konten agama dan orang yang belajar agama secara serius.
Bukan berarti seorang penceramah tidak berilmu. Namun, kita perlu menyadari bahwa kemampuan berbicara di depan publik bukanlah satu-satunya ukuran kedalaman ilmu.
Menuntut Ilmu Jangan Sampai Kalah oleh Semangat Beramal
Ada orang yang sangat bersemangat memperbanyak ibadah, tetapi kurang memiliki perhatian terhadap ilmu.
Ia rajin membaca, rajin berdzikir, rajin mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, tetapi jarang meluangkan waktu untuk mempelajari dasar-dasar agama.
Padahal, ilmu diperlukan agar amal yang dilakukan memiliki dasar dan dilakukan dengan cara yang benar.
Bayangkan seseorang ingin melakukan perjalanan menuju suatu tempat yang belum pernah ia datangi.
Ia memiliki kendaraan, bahan bakar, dan semangat yang besar. Namun ia tidak memiliki peta atau petunjuk arah.
Semangatnya mungkin tinggi, tetapi tanpa mengetahui arah, ia bisa saja semakin jauh dari tujuan.
Demikian pula dalam kehidupan beragama.
Semangat beramal perlu disertai ilmu.
Ilmu yang Bermanfaat Akan Membimbing Amal
Ilmu dalam Islam bukan sekadar banyak mengetahui informasi.
Ilmu yang bermanfaat seharusnya membawa seseorang kepada rasa takut kepada Allah, kerendahan hati, dan perbaikan amal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”(QS. Fatir: 28)
Ayat ini menunjukkan hubungan antara ilmu dan rasa takut kepada Allah.
Semakin seseorang memahami kebesaran Allah dan ajaran-Nya, semestinya semakin besar pula kesadarannya untuk memperbaiki diri.
Karena itu, tujuan menuntut ilmu bukan sekadar agar seseorang dapat memenangkan perdebatan atau terlihat pintar di hadapan orang lain.
Tujuan ilmu adalah agar seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah dan semakin baik amalnya.
Sedikit yang Memberi, Banyak yang Meminta
Nasihat tersebut juga menyebutkan keadaan ketika sedikit orang yang memberi, sementara banyak orang yang meminta.
Kalimat ini dapat menjadi bahan renungan tentang perubahan sikap manusia.
Dalam kehidupan sosial, kita membutuhkan keseimbangan antara menerima dan memberi.
Memberi tidak selalu berarti memberikan uang.
Seseorang dapat memberikan:
- ilmu;
- waktu;
- tenaga;
- perhatian;
- nasihat yang baik;
- bantuan kepada orang lain;
- sedekah;
- pengalaman;
- bahkan sekadar senyuman.
Islam mengajarkan umatnya agar tidak hanya memikirkan apa yang dapat diterima, tetapi juga apa yang dapat diberikan kepada orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى»
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut memberikan motivasi agar seorang Muslim memiliki semangat untuk memberi dan membantu sesuai dengan kemampuannya.
Jangan Mudah Merasa Sudah Berilmu
Salah satu bahaya dalam belajar agama adalah munculnya perasaan bahwa seseorang sudah mengetahui banyak hal setelah mempelajari sedikit ilmu.
Padahal, semakin seseorang mendalami ilmu, biasanya semakin ia menyadari betapa luasnya ilmu yang belum diketahuinya.
Sikap rendah hati sangat penting bagi seorang penuntut ilmu.
Jangan malu mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Tidak mengetahui sesuatu bukanlah aib.
Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak tahu tetapi berbicara seolah-olah mengetahui.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini mengajarkan pentingnya bertanya kepada orang yang memiliki ilmu ketika kita tidak mengetahui suatu perkara.
Belajar Agama di Era Media Sosial
Pada zaman sekarang, menuntut ilmu menjadi lebih mudah sekaligus lebih menantang.
Mudah karena berbagai kitab, kajian, artikel, video, dan materi pendidikan dapat ditemukan melalui internet.
Namun menantang karena tidak semua informasi yang beredar di internet dapat dijadikan rujukan keagamaan.
Oleh karena itu, seorang Muslim perlu memiliki kebiasaan tabayyun dan memeriksa sumber.
Jangan langsung percaya hanya karena sebuah video memiliki jutaan penonton.
Jangan langsung menganggap benar hanya karena seseorang memiliki banyak pengikut.
Dan jangan pula menolak suatu ilmu hanya karena disampaikan oleh seseorang yang tidak terkenal.
Ukuran kebenaran bukan semata-mata popularitas.
Pentingnya Kembali kepada Ulama dan Sumber Ilmu
Ketika menghadapi persoalan agama yang belum diketahui, langkah yang lebih aman adalah bertanya kepada orang yang memang memiliki ilmu dan kompetensi dalam bidang tersebut.
Terutama untuk persoalan yang berkaitan dengan hukum fikih, akidah, ibadah, muamalah, dan masalah keagamaan yang kompleks.
Belajar kepada guru juga memiliki kelebihan yang tidak selalu didapatkan hanya dengan menonton video pendek.
Guru dapat menjelaskan konteks, memberikan koreksi, menjawab pertanyaan, serta membimbing proses belajar secara bertahap.
Karena itu, jangan sampai kemudahan mendapatkan informasi membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan guru dan ulama.
Ilmu dan Amal Harus Berjalan Bersama
Membahas keutamaan ilmu bukan berarti meremehkan amal.
Justru ilmu dan amal seharusnya berjalan bersama.
Ilmu tanpa amal dapat menjadi pengetahuan yang tidak memberikan perubahan.
Sebaliknya, amal tanpa ilmu dapat menyebabkan seseorang melakukan sesuatu tanpa mengetahui apakah amal tersebut benar atau tidak.
Maka seorang Muslim hendaknya memiliki tiga hal:
Belajar → memahami → mengamalkan.
Setelah mengetahui ilmu, kemudian berusaha mengamalkannya.
Setelah mengamalkannya, tetap menjaga keikhlasan dan memperbaiki diri.
Kesimpulan
Nasihat tentang sedikitnya orang yang memahami ilmu tetapi banyaknya orang yang pandai berbicara merupakan peringatan yang sangat relevan untuk direnungkan di era digital.
Kita hidup pada zaman ketika informasi agama dapat tersebar dengan sangat cepat. Namun kecepatan penyebaran informasi tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu.
Karena itu, mari kita kembali membangun budaya menuntut ilmu sebelum berbicara, memahami sebelum menyampaikan, dan belajar sebelum mengamalkan sesuatu yang belum kita ketahui.
Jangan hanya berlomba menjadi orang yang banyak berbicara tentang agama.
Berusahalah menjadi orang yang mau belajar agama dengan benar, rendah hati ketika belum mengetahui, dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Sebab pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar banyaknya informasi, tetapi ilmu yang benar dan amal yang sesuai dengan ilmu tersebut.
«Belajar sebelum berbicara.
Memahami sebelum mengamalkan.
Dan mengamalkan ilmu dengan ikhlas karena Allah.»
Catatan tentang Kutipan
Ungkapan yang menjadi pembuka artikel ini sebaiknya tidak langsung disebut sebagai hadis Nabi ﷺ tanpa memastikan sumber dan derajat riwayatnya. Jika hendak dipublikasikan sebagai artikel keislaman, lebih aman menyebutnya sebagai nasihat atau ungkapan yang dinukil, kecuali sumber hadisnya telah diverifikasi.
Komentar
Posting Komentar