Rajin Ibadah Belum Tentu Husnul Khatimah, Pelaku Maksiat Belum Tentu Su’ul Khatimah
Rajin Ibadah Belum Tentu Husnul Khatimah, Pelaku Maksiat Belum Tentu Su’ul Khatimah
Dalam pembahasan tazkiyatun nafs dan tasawuf, terdapat sebuah nasihat penting yang perlu dipahami dengan benar: seseorang yang hari ini rajin beribadah belum tentu mengetahui bagaimana akhir kehidupannya, sebagaimana seseorang yang hari ini bergelimang maksiat belum tentu akan meninggal dalam keadaan buruk.
Pernyataan ini bukanlah ajakan untuk meremehkan ibadah ataupun membenarkan kemaksiatan. Justru, salah satu tujuan utama nasihat tersebut adalah mengobati penyakit hati seperti ujub, takabbur, dan merasa lebih suci daripada orang lain.
Rajin Ibadah Tidak Boleh Melahirkan Ujub
Ibadah adalah nikmat dan karunia Allah. Ketika seseorang diberikan kemampuan untuk shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menuntut ilmu, berdzikir, dan melakukan berbagai amal kebaikan, seharusnya hal tersebut membuatnya semakin rendah hati.
Namun, manusia dapat terjatuh ke dalam penyakit ujub, yaitu merasa kagum terhadap dirinya sendiri karena amal yang dilakukan.
Lebih jauh lagi, ujub dapat berkembang menjadi kibr atau kesombongan, sehingga seseorang mulai memandang rendah orang lain.
Ia merasa dirinya lebih baik karena rajin beribadah, sementara orang lain dianggap buruk karena masih melakukan dosa.
Padahal, seseorang tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya sendiri.
Amal yang kita lakukan hari ini adalah sesuatu yang harus kita syukuri, bukan alasan untuk merasa aman dari ujian Allah.
Orang yang Bermaksiat Tidak Boleh Selamanya Dicela
Di sisi lain, seseorang yang sedang terjerumus dalam kemaksiatan juga tidak boleh dianggap tidak memiliki kesempatan untuk berubah.
Pintu taubat Allah masih terbuka selama seseorang belum sampai pada ajalnya.
Bisa jadi seseorang yang hari ini masih bergelimang dosa kemudian mendapatkan hidayah, bertaubat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki kehidupannya, lalu meninggal dalam keadaan baik.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya membenci perbuatan maksiatnya, tetapi tidak menjadikan dirinya sebagai hakim atas akhir kehidupan orang tersebut.
Kita dapat mengingkari kemaksiatan tanpa merasa diri kita lebih suci.
Jangan Salah Memahami Nasihat Ini
Di sinilah pentingnya memahami perkataan tentang akhir kehidupan secara proporsional.
Kalimat:
«"Orang yang rajin ibadah belum tentu akhir hayatnya shalih, dan orang yang rajin bermaksiat belum tentu akhir hayatnya buruk."»
Tidak boleh dipahami sebagai:
"Berarti rajin ibadah dan rajin maksiat sama saja."
Itu adalah pemahaman yang keliru.
Ibadah tetaplah ketaatan yang diperintahkan Allah, sedangkan zina, minuman keras, kezaliman, dan berbagai kemaksiatan tetaplah dosa yang harus dijauhi.
Kemungkinan seseorang berubah di masa depan tidak membuat kemaksiatan menjadi halal pada hari ini.
Demikian pula kemungkinan seseorang mengalami perubahan di akhir hidupnya bukan berarti kita boleh meremehkan orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan.
Tujuan Utamanya Adalah Mengobati Penyakit Hati
Dalam konteks tazkiyatun nafs, nasihat semacam ini terutama diarahkan kepada diri sendiri.
Ketika melihat seseorang melakukan maksiat, kita tidak boleh langsung membatin:
"Aku lebih baik daripada dia."
Sebab kita tidak mengetahui akhir perjalanan masing-masing.
Sebaliknya, ketika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan kebaikan, hendaknya kita berkata dalam hati:
"Alhamdulillah, ini adalah pertolongan Allah. Semoga Allah memberikan istiqamah dan husnul khatimah kepadaku."
Sikap seperti ini jauh lebih selamat daripada merasa bangga terhadap amal sendiri.
Membenci Maksiat, Bukan Menyombongkan Diri di Hadapan Pelakunya
Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk menjauhi dan mengingkari kemaksiatan sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.
Namun, mengingkari kemaksiatan berbeda dengan menyombongkan diri di hadapan pelakunya.
Ada perbedaan besar antara:
"Perbuatan ini adalah maksiat dan harus ditinggalkan."
dengan:
"Aku lebih suci daripada kamu dan pasti lebih baik darimu."
Yang pertama adalah sikap terhadap perbuatan.
Yang kedua dapat menjadi penyakit hati terhadap manusia.
Karena itu, nasihat para ulama tentang bahaya ujub dan kesombongan sangat penting untuk direnungkan.
Jangan Sampai Nasihat Ini Digunakan untuk Membela Maksiat
Kesalahan lainnya adalah menggunakan pembahasan tentang husnul khatimah dan su’ul khatimah untuk membenarkan kemaksiatan.
Misalnya seseorang berkata:
"Jangan menghakimi pezina. Bisa saja dia masuk surga."
Kalimat semacam ini dapat menjadi sangat berbahaya jika maksudnya adalah menganggap zina sebagai sesuatu yang tidak perlu dihindari atau tidak perlu dinasihati.
Kemungkinan seseorang bertaubat tidak berarti kita boleh menganggap dosa sebagai perkara ringan.
Orang yang melakukan maksiat tetap membutuhkan taubat, nasihat, dan pertolongan untuk meninggalkan dosa, bukan pembenaran agar terus berada dalam kemaksiatan.
Jangan Pula Merendahkan Orang-Orang Shalih
Kesalahan yang sama juga dapat terjadi dari arah yang berlawanan.
Karena mengetahui bahwa seseorang bisa berubah, jangan sampai kita menggunakan kemungkinan tersebut untuk merendahkan orang-orang yang selama ini dikenal dengan ketaatan dan keshalihannya.
Misalnya, seseorang yang rajin beribadah kemudian dicurigai:
"Belum tentu dia mati dalam keadaan baik."
Sementara orang yang melakukan maksiat justru dibela:
"Belum tentu dia mati dalam keadaan buruk."
Jika cara berpikir tersebut digunakan untuk menjatuhkan orang shalih dan mengagungkan pelaku maksiat, maka tujuan tazkiyatun nafs telah disalahgunakan.
Nasihat tentang ketidakpastian akhir kehidupan seharusnya membuat kita semakin takut terhadap diri sendiri, bukan semakin berani meremehkan orang lain.
Fokus pada Akhir Kehidupan Diri Sendiri
Pelajaran terbesar dari pembahasan ini bukanlah sibuk menebak siapa yang akan masuk surga atau neraka.
Kita justru perlu bertanya kepada diri sendiri:
Bagaimana keadaan hatiku saat ini?
Apakah ibadahku membuatku semakin tawadhu?
Apakah ilmuku membuatku semakin takut kepada Allah?
Apakah amal kebaikanku membuatku semakin mudah memaafkan orang lain?
Ataukah justru membuatku merasa lebih tinggi daripada mereka?
Inilah salah satu inti dari tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari penyakit hati.
Jangan Merasa Aman, Jangan Juga Berputus Asa
Seorang yang sedang taat tidak boleh merasa aman dari ujian Allah.
Ia harus memohon agar diberikan istiqamah dan husnul khatimah.
Sementara orang yang sedang terjatuh dalam dosa tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Ia harus segera bertaubat dan memperbaiki diri.
Dengan demikian, kita tidak jatuh ke dalam dua sikap ekstrem:
Merasa aman karena banyak beramal, atau
Merasa tidak ada harapan karena banyak melakukan dosa.
Keduanya sama-sama berbahaya bagi perjalanan hati.
Kesimpulan
Pernyataan bahwa orang yang rajin beribadah belum tentu berakhir dalam keadaan shalih dan orang yang banyak melakukan maksiat belum tentu berakhir dalam keadaan buruk harus ditempatkan dalam konteks yang benar.
Dalam tazkiyatun nafs, nasihat tersebut dapat menjadi obat bagi penyakit ujub, kibr, dan merasa lebih suci daripada orang lain.
Kita tidak mengetahui akhir kehidupan seseorang. Karena itu, jangan menjadikan amal sendiri sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Namun, hal tersebut sama sekali bukan berarti menyamakan antara ketaatan dan kemaksiatan.
Ibadah tetaplah ketaatan. Maksiat tetaplah dosa. Orang yang bermaksiat tetap harus bertaubat, dan orang yang taat tetap harus menjaga keikhlasan serta memohon husnul khatimah.
Jangan sampai nasihat untuk merendahkan ego justru berubah menjadi pembenaran terhadap dosa.
Dan jangan sampai kebencian terhadap dosa berubah menjadi kesombongan terhadap pelakunya.
Yang paling selamat adalah selalu melihat kekurangan diri sendiri, menjaga amal agar ikhlas, menjauhi kemaksiatan, mendoakan orang yang terjatuh dalam dosa agar mendapatkan hidayah, serta memohon kepada Allah agar kita semua diberikan istiqamah dan husnul khatimah.
Komentar
Posting Komentar