Menyombongkan Maksiat Jauh Lebih Buruk daripada Menyombongkan Ibadah
Setiap manusia tentu tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, ada perbedaan besar antara seseorang yang melakukan dosa lalu menyesalinya dengan seseorang yang melakukan dosa kemudian membanggakan dan menyombongkannya di hadapan orang lain.
Menyombongkan maksiat bukan hanya menunjukkan seseorang telah melakukan kesalahan, tetapi juga dapat menjadi tanda bahwa hati mulai kehilangan rasa malu terhadap Allah ﷻ.
Sebaliknya, orang yang melakukan ibadah pun tetap harus berhati-hati. Sebab, ibadah yang disertai rasa bangga berlebihan dapat menjerumuskan seseorang kepada ujub dan riya.
Lalu, mengapa menyombongkan maksiat begitu berbahaya?
Apa yang Dimaksud dengan Menyombongkan Maksiat?
Menyombongkan maksiat adalah ketika seseorang tidak sekadar melakukan dosa, tetapi kemudian membanggakan, menceritakan, atau menampakkan perbuatan tersebut tanpa rasa malu dan penyesalan.
Misalnya, seseorang melakukan perbuatan yang dilarang Allah kemudian menceritakannya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan perhatian, dianggap keren, atau memperoleh pengakuan.
Padahal, seorang Muslim seharusnya memiliki rasa takut kepada Allah ﷻ dan tidak menjadikan dosa sebagai sesuatu yang layak dibanggakan.
Allah ﷻ berfirman:
«وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ»
«“Dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.”»
(QS. Al-An'am: 151)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa seorang Muslim tidak hanya diperintahkan meninggalkan perbuatan keji, tetapi juga menjauhi jalan yang dapat mengantarkan kepadanya.
Mengapa Menyombongkan Maksiat Sangat Berbahaya?
1. Menghilangkan Rasa Malu terhadap Dosa
Rasa malu merupakan salah satu penjaga manusia dari perbuatan buruk.
Ketika seseorang melakukan dosa dan masih merasa takut serta menyesal, hatinya masih memiliki dorongan untuk kembali kepada Allah ﷻ.
Namun, ketika dosa justru dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan, rasa malu tersebut dapat semakin hilang.
Akibatnya, seseorang bisa menjadi terbiasa melakukan kemaksiatan tanpa merasa bersalah.
2. Dosa yang Dilakukan Terang-Terangan Lebih Mengkhawatirkan
Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang orang-orang yang menampakkan dosa kepada manusia.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ﷺ, beliau bersabda bahwa seluruh umatnya mendapatkan kemungkinan memperoleh ampunan kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan.
Salah satu bentuknya adalah seseorang melakukan dosa pada malam hari, kemudian pada pagi harinya menceritakan perbuatannya kepada orang lain.
Hadis ini menunjukkan betapa berbahayanya membuka dan membanggakan maksiat setelah Allah menutupinya.
3. Dapat Menjadi Contoh Buruk bagi Orang Lain
Maksiat yang dilakukan secara sembunyi mungkin hanya berdampak pada pelakunya.
Tetapi ketika maksiat dipamerkan kepada orang lain, terutama melalui media sosial, dampaknya bisa menjadi lebih luas.
Orang lain dapat melihat, meniru, atau menganggap perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati dengan apa yang dibagikan kepada publik.
Tidak semua hal yang pernah dilakukan perlu diceritakan kepada orang lain.
4. Membuat Dosa Terlihat Seolah-Solah Bukan Kesalahan
Salah satu bahaya menyombongkan maksiat adalah munculnya anggapan bahwa dosa tersebut tidak perlu dipermasalahkan.
Padahal, sesuatu yang dilarang Allah tetaplah dosa meskipun banyak orang melakukannya.
Banyaknya orang yang melakukan sebuah kemaksiatan tidak otomatis membuatnya menjadi benar.
Bagaimana dengan Menyombongkan Ibadah?
Jika menyombongkan maksiat berbahaya, bukan berarti menyombongkan ibadah adalah sesuatu yang aman.
Seorang Muslim juga harus berhati-hati agar amal ibadahnya tidak disertai ujub dan riya.
Ujub adalah merasa kagum terhadap diri sendiri karena amal yang dilakukan. Sedangkan riya adalah melakukan amal dengan tujuan mendapatkan pujian atau perhatian manusia.
Allah ﷻ mengingatkan:
«فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ»
«“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”»
(QS. An-Najm: 32)
Karena itu, ketika mendapatkan kesempatan melakukan kebaikan, hendaknya kita tidak merasa lebih mulia daripada orang lain.
Bisa jadi seseorang yang terlihat memiliki banyak kekurangan justru memiliki hati yang lebih ikhlas dan lebih dekat kepada Allah ﷻ.
Jangan Bangga dengan Dosa, tetapi Segeralah Bertaubat
Jika seseorang pernah melakukan maksiat, jangan sampai dosa tersebut membuatnya merasa tidak memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Allah ﷻ membuka pintu taubat bagi hamba-Nya.
Allah berfirman:
«لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ»
«“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”»
(QS. Az-Zumar: 53)
Maka, ketika seseorang pernah melakukan kesalahan, sikap yang lebih baik bukanlah membanggakannya, tetapi mengakuinya sebagai kesalahan, menyesal, meninggalkannya, dan memohon ampun kepada Allah.
Jangan mengubah dosa menjadi identitas.
Jangan pula merasa bahwa karena pernah melakukan kesalahan, maka kita tidak layak menjadi lebih baik.
Jika Allah Menutupi Aib Kita, Jangan Membukanya
Salah satu nikmat yang sering tidak disadari adalah ketika Allah ﷻ menutupi aib dan dosa seorang hamba.
Maka jangan menjadikan media sosial sebagai tempat untuk membuka sesuatu yang Allah telah tutupi.
Sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru membuat saya semakin jauh dari-Nya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Kesimpulan
Menyombongkan maksiat adalah perkara yang sangat berbahaya. Dosa bukanlah sesuatu yang layak dibanggakan, apalagi dipamerkan kepada orang lain.
Namun, kita juga harus berhati-hati terhadap kebanggaan dalam ibadah. Jangan sampai amal yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru menjadi sebab munculnya ujub dan riya.
Yang paling selamat adalah merendahkan hati ketika melakukan kebaikan dan segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.
Jangan bangga karena pernah bermaksiat. Jangan pula merasa lebih baik karena banyak beribadah.
Sebab, yang menentukan kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah apa yang ia banggakan di hadapan manusia, tetapi ketakwaan dan keikhlasan yang ada di dalam hatinya.
Semoga Allah ﷻ menjaga hati kita dari kesombongan, menjauhkan kita dari kemaksiatan, menerima amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa kita.
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar