Ketika Manusia Tidak Lagi Peduli Asal Hartanya: Peringatan Nabi ﷺ tentang Harta Halal dan Haram

Pernahkah kita bertanya dari mana sebenarnya uang yang kita gunakan untuk makan, membeli kebutuhan, membayar tagihan, atau memenuhi keinginan berasal?

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, mencari penghasilan memang menjadi kebutuhan setiap orang. Namun, Islam tidak hanya mengajarkan agar seseorang memiliki harta yang banyak. Islam juga mengajarkan agar harta tersebut diperoleh melalui jalan yang halal dan baik.

Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan tentang akan datangnya suatu zaman ketika sebagian manusia tidak lagi memperhatikan sumber hartanya, apakah berasal dari sesuatu yang halal atau justru dari sesuatu yang haram.

Hadits tentang Tidak Peduli Asal Harta

Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Akan datang kepada manusia suatu zaman, seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram.”»

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari.

Hadits tersebut merupakan peringatan yang sangat penting. Persoalan harta bukan hanya tentang jumlah yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana cara mendapatkannya.

Seseorang mungkin merasa senang ketika mendapatkan keuntungan besar. Namun seorang muslim hendaknya tidak berhenti pada pertanyaan, “Berapa banyak yang saya dapatkan?”

Ia juga perlu bertanya:

“Dari mana harta ini saya dapatkan?”

Harta Halal Bukan Sekadar Banyak

Dalam Islam, keberkahan harta lebih penting daripada sekadar jumlahnya.

Harta yang halal, meskipun jumlahnya tidak besar, dapat menjadi sebab kebaikan apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang lain, bersedekah, menuntut ilmu, dan berbagai amal kebaikan lainnya.

Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui jalan yang dilarang agama tidak menjadi baik hanya karena jumlahnya besar.

Karena itu, seorang muslim perlu berhati-hati dalam mencari rezeki.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

«“Wahai manusia, makanlah dari apa yang terdapat di bumi yang halal lagi baik...”»

(QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian terhadap apa yang dikonsumsi dan diperoleh manusia.

Mengapa Harta Haram Sangat Berbahaya?

Harta haram bukan hanya persoalan transaksi atau keuntungan duniawi. Cara seseorang memperoleh harta juga dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupannya.

Ketika seseorang mulai terbiasa mendapatkan uang dengan cara yang dilarang, rasa takut kepada Allah dapat berkurang. Pada akhirnya, yang menjadi ukuran bukan lagi halal atau haram, tetapi hanya berapa besar keuntungan yang diperoleh.

Inilah salah satu bahaya yang dapat dipahami dari peringatan Rasulullah ﷺ.

Pada awalnya seseorang mungkin merasa tidak nyaman ketika mendapatkan penghasilan dari jalan yang meragukan. Namun jika terus dilakukan, hati bisa terbiasa.

Yang sebelumnya dianggap salah, lama-kelamaan dianggap biasa.

Ketika Keuntungan Menjadi Tujuan Utama

Salah satu ujian terbesar dalam persoalan harta adalah ketika keuntungan menjadi tujuan utama sehingga seseorang mengabaikan aturan agama.

Misalnya, seseorang mengetahui bahwa suatu transaksi mengandung unsur yang dilarang, tetapi tetap melakukannya karena keuntungan yang diperoleh lebih besar.

Ada pula orang yang tidak mau bertanya tentang sumber penghasilannya karena khawatir jawabannya membuatnya tidak nyaman.

Padahal seorang muslim hendaknya memiliki sikap wara', yaitu berhati-hati terhadap perkara yang dapat menyeretnya kepada sesuatu yang haram.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa perkara halal telah jelas dan perkara haram telah jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia.

Karena itu, berhati-hati dalam mencari rezeki merupakan bagian dari menjaga agama.

Rezeki yang Sedikit tetapi Halal Lebih Menenangkan

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang besar. Ada yang bekerja dengan gaji sederhana, memiliki usaha kecil, atau mendapatkan penghasilan yang belum sesuai dengan harapannya.

Namun jangan sampai keterbatasan tersebut membuat seseorang menghalalkan segala cara.

Sedikit tetapi halal lebih baik daripada banyak tetapi haram.

Seorang muslim hendaknya yakin bahwa rezeki berada di tangan Allah. Tugas manusia adalah berusaha melalui jalan yang benar dan tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat.

Ketika seseorang menjaga kehalalan penghasilannya, ia tidak hanya sedang mencari uang, tetapi juga sedang menjaga dirinya dan keluarganya.

Bagaimana Cara Menjaga Harta Tetap Halal?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita lebih berhati-hati dalam mencari rezeki.

1. Perhatikan sumber penghasilan

Jangan hanya melihat jumlah pendapatan. Perhatikan juga pekerjaan, bisnis, transaksi, dan sumber keuntungan yang dilakukan.

2. Pelajari hukum muamalah

Semakin banyak seseorang terlibat dalam perdagangan dan transaksi, semakin penting baginya memahami aturan dasar muamalah dalam Islam.

3. Hindari transaksi yang jelas-jelas dilarang

Apabila suatu cara mendapatkan keuntungan telah diketahui sebagai sesuatu yang haram, seorang muslim hendaknya meninggalkannya meskipun keuntungan yang ditawarkan sangat besar.

4. Berhati-hati terhadap perkara syubhat

Tidak semua perkara langsung terlihat halal atau haram. Jika terdapat keraguan yang serius, mencari penjelasan dari ulama atau orang yang memiliki ilmu adalah langkah yang lebih selamat.

5. Jangan menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya ukuran

Keuntungan memang penting dalam bisnis. Namun bagi seorang muslim, keberkahan lebih penting daripada sekadar nominal.

Harta Akan Dipertanggungjawabkan

Kekayaan yang dimiliki manusia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya:

“Berapa banyak harta yang berhasil saya kumpulkan?”

Tetapi juga:

“Dari mana harta itu saya dapatkan dan untuk apa saya gunakan?”

Harta yang diperoleh dengan cara halal kemudian digunakan untuk kebaikan dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Sebaliknya, seseorang tidak seharusnya merasa aman hanya karena berhasil mengumpulkan banyak kekayaan apabila proses mendapatkannya melanggar ketentuan agama.

Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Diperingatkan dalam Hadits

Hadits tentang manusia yang tidak lagi peduli apakah hartanya halal atau haram seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.

Kita mungkin tidak dapat mengubah keadaan seluruh masyarakat. Namun kita dapat memulai dari diri sendiri.

Periksa kembali pekerjaan kita.

Periksa kembali bisnis kita.

Periksa kembali transaksi kita.

Periksa kembali cara kita mendapatkan keuntungan.

Dan yang tidak kalah penting, ajarkan kepada keluarga bahwa mencari rezeki bukan hanya tentang mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tetapi tentang mendapatkan rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.

Jangan sampai keinginan mendapatkan kehidupan yang lebih baik justru membuat kita mengambil jalan yang dilarang Allah.

Kesimpulan

Peringatan Rasulullah ﷺ tentang manusia yang tidak peduli dari mana mendapatkan harta merupakan nasihat yang sangat relevan untuk direnungkan.

Di tengah banyaknya peluang mendapatkan uang pada zaman sekarang, seorang muslim perlu semakin berhati-hati. Jangan sampai besarnya keuntungan membuat kita lupa bertanya apakah cara mendapatkannya halal atau haram.

Harta yang sedikit tetapi halal dan berkah lebih menenangkan daripada harta yang banyak namun diperoleh dengan cara yang dilarang.

Semoga Allah memberikan kepada kita rezeki yang halal, luas, baik, dan penuh keberkahan serta menjaga kita dari harta yang haram dan syubhat. Aamiin.

---

FAQ: Harta Halal dan Haram

Apa hadits tentang tidak peduli dari mana mendapatkan harta?

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan datang suatu zaman ketika seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mendapatkan hartanya, apakah dari yang halal atau dari yang haram. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Mengapa seorang muslim harus mencari harta yang halal?

Karena Islam memerintahkan umatnya untuk memperoleh dan mengonsumsi sesuatu yang halal lagi baik. Cara memperoleh harta juga termasuk bagian yang harus diperhatikan dalam kehidupan seorang muslim.

Apakah harta yang banyak selalu berarti kehidupan yang baik?

Tidak. Banyaknya harta bukan satu-satunya ukuran kebaikan. Seorang muslim juga perlu memperhatikan sumber harta, keberkahannya, serta bagaimana harta tersebut digunakan.

Apa yang harus dilakukan jika ragu terhadap suatu penghasilan?

Jika terdapat keraguan mengenai hukum suatu transaksi atau penghasilan, sebaiknya mencari penjelasan dari ulama atau orang yang memiliki ilmu agar tidak terjatuh dalam perkara yang dilarang.

Komentar