Pengajian Asmaul Husna 03 Ar‑Rahim
Pengajian Asmaul Husna 03 Ar‑Rahim
Yang Ketiga dari Asmaul Husna: Ar‑Rahim
Hai, Ar‑Rahim biasa kita artikan dengan “Yang Maha Penyayang.”
Nah, “Yang Maha Penyayang” itu maknanya sangat ringkas dan sangat umum.
Ar‑Rahim itu ialah Allah yang dengan rahmat‑Nya memberi nikmat‑nikmat kecil atau cabang‑cabang dari nikmat yang besar. Kalau Ar‑Rahman itu Allah yang memberi nikmat‑nikmat pokok yang besar‑besar, maka Ar‑Rahim Allah memberi nikmat‑nikmat kecil yang merupakan cabang‑cabang dari nikmat pokok itu.
Contohnya:
Al‑jamal (keelokan), ketampanan, kecantikan, keindahan — itu termasuk nikmat dari Ar‑Rahim.
Ar‑Rahman memberi nikmat wujud (keberadaan), dari tidak ada menjadi ada. Itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang hamba.
Ar‑Rahim membuat yang telah Allah adakan itu diperindah dan diperbaguskan. Itu termasuk nikmat dari Allah yang disebut Ar‑Rahim.
Seperti Allah berfirman:
“فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ”
Allah membuat dan membentuk kamu dengan sebaik‑baik bentuk.
Ar‑Rahman membentuk manusia, Ar‑Rahim membuat bentuk itu bagus dan indah.
Begitu juga kalau kita contohkan sebuah bangunan rumah:
Bata yang disusun hingga berdiri bangunan itu dari Allah yang Ar‑Rahman.
Ketika bata itu diperindah, diplester, dicat, hingga rumah itu terlihat cantik dan elok, itu dari Allah yang Ar‑Rahim.
Begitu juga soal keimanan. Allah yang memberi iman itu Ar‑Rahman, dan Allah yang menambahkan, memperindah, membuat iman semakin kuat dan mantap itu Ar‑Rahim. Allah juga yang memberi kesempurnaan akal. Ada manusia yang akalnya biasa saja, ada yang sangat cerdas dan tajam, itu juga dari Allah yang Ar‑Rahim.
Begitu juga dengan penglihatan dan pendengaran. Ada yang biasa saja, ada yang sangat tajam dan jelas, itu juga dari Allah yang Ar‑Rahim.
Contoh lain:
Allah memberi air yang tawar dan nyaman diminum. Allah Ar‑Rahman memberi air itu, Allah Ar‑Rahim membuat air itu terasa tawar dan nikmat.
Allah juga membuat tumbuh tumbuhan dari tanah yang sebelumnya mati, Allah juga membuat bentuk makhluk‑Nya dengan indah dan elok.
Ar‑Rahim juga Allah yang memulihkan keadaan manusia dari hal‑hal yang haram dalam keadaan darurat, seperti dijelaskan Allah dalam Al‑Qur’an:
“إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ”
Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih bukan karena Allah. Tapi siapa yang berada dalam keadaan darurat, tidak dalam keadaan menginginkannya atau melampaui batas, maka tidak berdosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Begitu juga contoh lain:
Saat berada dalam keadaan darurat, air kencing yang najis bisa saja diminum ketika tidak ada air lain dan berada dalam keadaan terpaksa untuk menyelamatkan nyawa. Itu juga dari Allah yang Ar‑Rahim, Allah yang memulihkan keadaan dari yang haram menjadi tidak berdosa dalam keadaan tertentu.
Ar‑Rahim juga Allah yang menerima taubat dan mengganti keburukan dengan kebaikan bagi orang yang taubat dan beramal saleh. Allah berfirman:
“إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا”
Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka Allah akan mengganti kesalahan mereka dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Contoh lainnya:
Orang yang pernah berbuat ghibah, jika bertaubat dengan taubat yang sungguh‑sungguh, maka Allah bisa mengganti dosa ghibah itu dengan pahala kebaikan.
Orang yang pernah berzina, bila ia bertaubat dengan taubat yang benar, maka Allah menghapuskan dosanya dan Allah gantikan dengan pahala kebaikan. Itu juga bentuk Allah yang Ar‑Rahim.
Ar‑Rahim juga dapat digunakan untuk makhluk Allah yang mempunyai kasih sayang, berbeda dengan Ar‑Rahman yang tidak dapat digunakan untuk makhluk Allah. Ar‑Rahim bisa digunakan untuk manusia yang sangat penyayang, sangat kasih dan cinta kepada makhluk Allah.
Contohnya Allah memberi Nabi kita, Nabi Muhammad ﷺ, nama Ar‑Rahim:
Allah berfirman:
“حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌ”
Nabi sangat menginginkan kebaikan bagi kamu, dan bagi orang‑orang beriman beliau sangat penyantun dan penyayang.
Begitu juga dalam sebuah riwayat:
Saat Nabi disakiti dan hendak dicelakakan oleh kaumnya, malaikat datang menawarkan untuk menghancurkan kaumnya dengan menjatuhkan gunung. Namun Nabi menjawab:
“اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”
Ya Allah, berilah petunjuk bagi kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Ini contoh dari kasih sayang Nabi yang dijuluki Allah sebagai Ar‑Rahim.
Contoh lainnya:
Saat Nabi sedang shalat dan berencana memanjangkan bacaan shalatnya, tetapi beliau mendengar suara tangisan anak kecil, maka Nabi mempercepat shalat beliau agar tidak membuat ibu dari anak itu risau. Ini juga contoh kasih sayang dari Nabi yang dijuluki Allah sebagai Ar‑Rahim.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ، مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ” (HR. Muslim)
Penghuni surga itu tiga kelompok:
Orang yang mempunyai kekuasaan, berlaku adil dan suka berbuat baik.
Orang yang penyayang, berhati lembut kepada keluarganya dan kepada semua Muslim.
Orang yang menjauhi yang haram dan tidak meminta‑minta padahal mempunyai banyak tanggungan.
Itulah contoh dari orang yang mempunyai sifat Ar‑Rahim.
Ar‑Rahim juga berarti Allah memberi kasih sayang bahkan bagi pelaku maksiat yang mau bertaubat. Allah menerima taubat dari pelaku ghibah dan pelaku zina, hingga Allah mengganti keburukannya dengan kebaikan.
Banyak contoh lainnya bagaimana Allah yang Ar‑Rahim memberikan kasih sayang kepada makhluk‑Nya.
Ar‑Rahim juga dapat digunakan sebagai nama bagi manusia yang penuh kasih sayang. Allah memberi contoh Nabi Yunus yang disebut Ar‑Rahim, juga Nabi Muhammad ﷺ. Allah memberi contoh kasih sayang ini agar manusia juga belajar untuk menyayangi makhluk Allah yang lain.
Rasulullah ﷺ pernah ditawarkan oleh malaikat untuk menghancurkan kaumnya yang menyakiti beliau, tetapi Nabi tidak mau. Nabi berkata:
“اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي، فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ”
Begitu juga contoh kasih sayang Nabi ketika mempercepat shalat agar tidak mengganggu ibu yang anaknya menangis.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan:
“اَلرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ”
Orang‑orang yang penyayang, Allah yang Maha Pengasih akan menyayangi mereka.
Dan juga sabda beliau:
“مَنْ لَمْ يَرْحَمْ لَمْ يُرْحَمْ”
Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi Allah.
Contoh lainnya:
Orang yang memungut riba bukanlah penyayang. Orang yang memberi bunga tinggi kepada yang kesusahan bukanlah penyayang. Allah tidak menyayangi orang seperti itu, dan Allah mengancam pelaku riba dalam Al‑Qur’an.
Contoh lainnya:
Seorang pelacur dari Bani Israil pernah memberi minum anjing yang kehausan dari sebuah sumur, Allah menerima amal kecil itu dan mengampuninya, bahkan Allah memberi hidayah dan menjadikan pelacur itu termasuk orang yang diampuni.
Begitu juga contoh lainnya:
Seorang perempuan masuk neraka bukan karena dia kafir, tetapi karena dia tidak memberi makan kucing yang dia kurung, tidak juga membebaskannya untuk makan dari tumbuh‑tumbuhan. Allah tidak menyayangi orang yang tidak mempunyai kasih sayang.
Contoh lain dari Kitab Syarh Al‑Arba’in An‑Nawawiyah:
Nabi Ya’qub diuji Allah dengan kehilangan putranya, Nabi Yusuf, selama bertahun‑tahun. Alasannya disebutkan bahwa Nabi Ya’qub pernah menyembelih anak sapi di depan induknya tanpa belas kasihan. Allah memberi pelajaran dari contoh ini bahwa Allah menginginkan kita memiliki kasih sayang kepada semua makhluk Allah.
Kasih sayang ini wajib ada dalam diri kita. Ada berbagai bentuk kasih sayang:
Kasih sayang kepada orang Muslim, kepada orang kafir, kepada hewan, kepada tumbuhan. Semua bentuk kasih sayang ini diajarkan Allah dan Rasul‑Nya.
Contoh kasih sayang kepada orang kafir ialah dengan mendoakan mereka agar mendapat hidayah Allah. Kasih sayang kepada orang Muslim ialah dengan menjalin silaturahmi dan membantu kebutuhan mereka. Kasih sayang kepada hewan ialah dengan memberi makan dan tidak menyiksanya. Kasih sayang kepada tumbuhan ialah dengan menjaganya dari kerusakan.
Kasih sayang ini juga dapat membawa buah dari keimanan kita kepada Allah yang mempunyai nama Ar‑Rahim. Bila kita benar‑benar beriman bahwa Allah mempunyai nama Ar‑Rahim, maka kita tidak akan membiarkan orang yang membutuhkan berada dalam kesusahan tanpa menolong sesuai kemampuan kita.
Baik dengan harta, pangkat, tenaga, atau bahkan dengan doa agar Allah memberi kemudahan bagi yang membutuhkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“اَلرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ”
Orang‑orang yang penyayang akan disayangi Allah yang Maha Pengasih.
Dan juga:
“مَنْ لَمْ يَرْحَمْ لَمْ يُرْحَمْ”
Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi Allah.
Contoh dari tidak adanya kasih sayang ialah praktik riba. Mereka yang memberi bunga tinggi kepada orang yang sedang kesusahan bukanlah contoh dari Ar‑Rahim. Allah tidak menyayangi orang yang tidak mempunyai kasih sayang.
Namun bagi siapa yang mempunyai kasih sayang, Allah juga akan memberi kasih sayang‑Nya. Allah dapat memberi hidayah bagi yang kafir, memberi taufik bagi yang fasik untuk bertaubat, dan bahkan Allah dapat menjadikan seorang yang awalnya baik dapat berubah menjadi buruk bila dia tidak mempunyai kasih sayang.
Rasulullah ﷺ memberi contoh:
Ada seekor anjing yang berputar‑putar di sebuah sumur, hampir mati kehausan. Ada seorang pelacur dari Bani Israil yang datang dan memberi minum anjing itu dari sepatunya. Allah mengampuninya dan memberi dia hidayah, hingga Allah menjadikannya orang yang diampuni.
Contoh lain:
Seorang perempuan Muslim masuk neraka bukan karena dia keluar dari Islam, tetapi karena dia tidak memberi makan kucing yang dia kurung dan tidak juga melepaskannya agar dapat makan dari tumbuh‑tumbuhan. Allah tidak menyayangi siapa pun yang tidak mempunyai kasih sayang.
Contoh dari Kitab Syarh Arba’in An‑Nawawiyah:
Nabi Ya’qub diuji Allah dengan kehilangan putranya Nabi Yusuf selama bertahun‑tahun. Alasannya ialah Nabi Ya’qub pernah menyembelih seekor sapi di hadapan induknya tanpa belas kasihan. Allah memberi pelajaran dari contoh ini bahwa Allah menginginkan hambanya untuk mempunyai kasih sayang kepada semua makhluk Allah.
Kasih sayang ini wajib ada dalam diri kita dan perlu diwujudkan dengan contoh yang diajarkan Allah dan Rasul‑Nya. Ada kasih sayang kepada orang Muslim, kepada orang kafir (dengan mendoakan hidayah bagi mereka), kasih sayang kepada hewan, dan kasih sayang kepada tumbuh‑tumbuhan. Semuanya dengan contoh dan aturan dari Allah dan Rasul‑Nya.
Sebagian ulama juga berkata bahwa siapa yang ingin mendapatkan buah dari keimanan kepada Allah yang bernama Ar‑Rahim, maka hendaklah dia berdzikir dengan menyebut:
“Yā Rahīm” sebanyak 100 kali setiap hari.
Insya Allah dengan itu Allah akan memberi kita kasih sayang dan menjadikan kita orang yang penuh kasih sayang kepada semua makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Komentar
Posting Komentar