Teks Khutbah Jumat : Lima Sifat Manusia Terbaik dalam Pandangan Allah SWT
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada sebuah nasihat yang sangat indah dari para ulama terdahulu.
كان يقال: أفضل الناس من كان فيه خمس خصال
"dikatakan: Sebaik-baik manusia adalah orang yang memiliki lima sifat."
Walaupun kalimat ini bukan hadis Nabi ﷺ, isinya sejalan dengan ajaran Al-Qur'an dan hadis-hadis yang sahih.
Pertama: Dekat dengan Allah melalui ibadah
أن يكون على عبادة ربه مقبلاً
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Tujuan utama hidup kita bukan sekadar mencari harta, membangun rumah, mengejar jabatan, atau mengumpulkan kekayaan. Semua itu hanyalah sarana. Tujuan hidup yang sesungguhnya adalah menjadi hamba yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya dilihat dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari kedekatannya dengan Allah. Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi hatinya gelisah. Ada pula yang hidup sederhana, namun hatinya tenang karena selalu menjaga hubungan dengan Allah.
Kesibukan mencari nafkah memang penting. Namun jangan sampai shalat ditinggalkan, Al-Qur'an tidak pernah dibaca, dan masjid hanya ramai ketika bulan Ramadan. Jangan sampai urusan dunia menyita seluruh waktu kita hingga tidak ada lagi waktu untuk sujud kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud." (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa semakin banyak seorang hamba bersujud kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada-Nya. Kedekatan itulah yang menghadirkan ketenangan hati, kemudahan dalam menghadapi masalah, dan keberkahan dalam kehidupan.
Cobalah kita bertanya kepada diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan hidup, ke mana kita lebih dahulu mengadu? Apakah kita segera mengangkat tangan berdoa kepada Allah, atau justru lebih sibuk mengeluh kepada manusia?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Setiap hari Allah memberi kita nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Udara yang kita hirup, kesehatan yang kita rasakan, keluarga yang menemani, serta rezeki yang kita peroleh semuanya berasal dari Allah. Maka sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu dengan memperbanyak ibadah.
Mari kita mulai dari hal-hal yang sederhana namun istiqamah: menjaga shalat lima waktu berjamaah bagi yang mampu, meluangkan waktu membaca Al-Qur'an setiap hari meskipun hanya beberapa ayat, memperbanyak zikir dan istighfar, serta mendidik anak-anak agar mencintai masjid sejak usia dini.
Insya Allah, apabila hubungan kita dengan Allah semakin baik, maka Allah akan memberikan keberkahan dalam keluarga, ketenangan dalam hati, kemudahan dalam mencari rezeki, dan pertolongan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kedua: Menjadi Manusia yang Bermanfaat
أن يكون نفعه للخلق ظاهراً
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Setelah kita memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, maka hubungan kita dengan sesama manusia juga harus diperbaiki. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin bukan hanya menjadi hamba yang saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber manfaat bagi orang lain.
Menjadi orang yang bermanfaat tidak selalu harus dengan harta yang banyak. Jika Allah memberikan rezeki yang lapang, bantulah dengan harta. Jika belum mampu dengan harta, bantulah dengan tenaga. Jika tidak mampu dengan tenaga, bantulah dengan ilmu, nasihat yang baik, doa yang tulus, senyuman yang ramah, atau sekadar memberikan semangat kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Jangan pernah merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan terlalu kecil. Bisa jadi senyuman yang kita berikan mampu menghibur hati saudara kita. Bisa jadi bantuan sederhana yang kita berikan menjadi sebab Allah mengangkat kesulitannya. Dan bisa jadi doa yang kita panjatkan untuk saudara kita menjadi sebab turunnya rahmat Allah.
Ma'asyiral muslimin,
Di lingkungan kita masih banyak orang yang membutuhkan perhatian. Ada tetangga yang sedang sakit, ada keluarga yang kesulitan mencari nafkah, ada anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, ada lansia yang memerlukan bantuan, bahkan ada saudara kita yang membutuhkan sekadar teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Jangan sampai kita hidup bertahun-tahun berdampingan dengan tetangga, tetapi tidak mengetahui keadaan mereka. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim memiliki rasa peduli dan kasih sayang kepada sesamanya.
Masjid juga akan semakin hidup apabila jamaahnya saling mengenal, saling menyapa, saling mengunjungi ketika sakit, bergotong royong menjaga kebersihan masjid, membantu kegiatan keagamaan, memperhatikan pendidikan anak-anak, serta menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim.
Ingatlah, umur kita terbatas. Ketika kita meninggal dunia, harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Jabatan yang kita banggakan akan dilepaskan. Namun kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain akan tetap dikenang dan menjadi amal yang Allah balas dengan pahala.
Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Selama hidup ini, sudah berapa banyak manfaat yang telah kita berikan kepada keluarga kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk tetangga kita? Apa yang sudah kita sumbangkan untuk kemajuan masjid kita? Dan apa yang telah kita persiapkan agar kehadiran kita benar-benar membawa rahmat bagi lingkungan sekitar?
Ketiga: Orang Lain Merasa Aman dari Keburukan Kita
أن يكون الناس من شره آمنين
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Islam bukan hanya mengajarkan kita untuk rajin beribadah, tetapi juga mengajarkan agar kehadiran kita membawa rasa aman bagi orang lain. Seorang muslim yang baik adalah orang yang membuat tetangganya merasa tenang, keluarganya merasa nyaman, dan masyarakat merasa aman dari ucapan maupun perbuatannya.
Hari ini, banyak perselisihan bukan karena kurangnya harta, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Betapa banyak hubungan persaudaraan rusak hanya karena satu kalimat yang menyakitkan. Betapa banyak keluarga retak karena ucapan yang keluar saat marah. Betapa banyak persahabatan putus karena fitnah dan ghibah.
Di zaman sekarang, menjaga lisan juga berarti menjaga jari-jari kita. Apa yang kita tulis di media sosial akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, jangan mudah menghina, mencela, atau mempermalukan orang lain hanya karena berbeda pendapat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu siap mencatatnya." (QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap ucapan, sekecil apa pun, tidak akan luput dari catatan malaikat. Karena itu, hendaklah kita berpikir sebelum berbicara. Jika perkataan itu membawa manfaat, maka ucapkanlah. Namun jika hanya akan menyakiti hati orang lain, lebih baik kita diam.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ma'asyiral muslimin,
Marilah kita mulai dari lingkungan yang paling dekat. Jadilah suami yang lembut kepada istri, istri yang menghormati suami, orang tua yang mendidik anak dengan kasih sayang, anak yang berbakti kepada orang tua, dan tetangga yang menjaga kerukunan.
Jangan sampai orang lain takut kepada kita karena ucapan kita kasar, mudah marah, suka menggunjing, atau gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Sebaliknya, jadilah pribadi yang ketika hadir membawa ketenangan, ketika berbicara menyejukkan hati, dan ketika bergaul selalu menebarkan akhlak yang mulia.
Jika setiap muslim mampu menjaga lisan, menjaga tangan, dan menjaga akhlaknya, insya Allah keluarga akan harmonis, masyarakat akan rukun, dan masjid akan menjadi pusat persaudaraan yang penuh dengan kasih sayang.
Keempat: Tidak Tamak terhadap Milik Orang Lain
أن يكون عما في أيدي الناس آيساً
Rasulullah ﷺ bersabda:
ازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
"Bersikaplah tidak mengharapkan apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah selalu melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada dirinya sendiri. Akibatnya, hati menjadi sempit, mudah iri, mudah dengki, dan tidak pernah merasa cukup.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
"Janganlah kamu menginginkan apa yang Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa': 32)
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak sibuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Allah membagi rezeki, kemampuan, kesehatan, dan berbagai nikmat sesuai dengan hikmah-Nya. Ada yang diberi kelapangan harta, ada yang diberi kesehatan, ada yang diberi ilmu, ada yang diberi anak-anak yang saleh. Masing-masing memiliki ujian dan nikmat yang berbeda.
Ma'asyiral muslimin,
Di zaman sekarang, rasa iri semakin mudah muncul. Melalui media sosial kita melihat orang lain membangun rumah baru, membeli kendaraan baru, pergi berlibur, atau memperoleh jabatan. Jika hati tidak dijaga, kita akan merasa hidup kita selalu kurang.
Padahal kita tidak mengetahui ujian yang mereka hadapi. Kita hanya melihat kebahagiaannya, tetapi tidak mengetahui kesulitan yang mereka sembunyikan. Karena itu, jangan ukur kebahagiaan dengan apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi ukurlah dengan kedekatan kita kepada Allah.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Dengan demikian kalian akan lebih mudah mensyukuri nikmat Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Bukan berarti kita tidak boleh bekerja keras atau bercita-cita untuk hidup lebih baik. Islam justru memerintahkan kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun usaha itu harus ditempuh dengan cara yang halal, penuh kejujuran, dan disertai rasa syukur kepada Allah.
Rezeki tidak akan tertukar. Apa yang telah Allah tetapkan untuk kita pasti akan sampai kepada kita. Yang menjadi tugas kita adalah bekerja, berdoa, bertawakal, dan menjauhi jalan-jalan yang haram seperti menipu, korupsi, riba, maupun mengambil hak orang lain.
Marilah kita mendidik hati agar menjadi hati yang qana'ah, yaitu hati yang merasa cukup dengan pemberian Allah. Orang yang qana'ah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi ia tidak diperbudak oleh rasa tamak. Ia bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika diuji, dan tetap yakin bahwa pilihan Allah adalah yang terbaik.
Kelima: Selalu Siap Menghadapi Kematian
أن يكون للموت مستعداً
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. at-Tirmidzi)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imran: 185)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tidak ada manusia yang dapat menolak datangnya ajal, meskipun ia memiliki kekayaan, jabatan, kekuatan, atau ilmu yang tinggi.
Setiap pekan bahkan hampir setiap hari, kita mendengar kabar duka. Ada yang meninggal dalam usia lanjut, ada yang masih muda, bahkan ada yang masih anak-anak. Semua itu mengingatkan kita bahwa kematian tidak mengenal usia dan tidak pernah menunggu kesiapan seseorang.
Kematian tidak menunggu seseorang pensiun, tidak menunggu anak-anak dewasa, tidak menunggu rumah selesai dibangun, bahkan tidak menunggu utang selesai dibayar. Ketika ajal telah tiba, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menundanya walau hanya sesaat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Apabila ajal mereka telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat mempercepatnya." (QS. Al-A'raf: 34)
Ma'asyiral muslimin,
Mengingat kematian bukanlah untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita menjadi orang yang lebih baik. Orang yang selalu mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih jujur dalam bekerja, lebih semangat beribadah, dan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Sebab ia sadar bahwa suatu saat nanti semua harta akan ditinggalkan, semua jabatan akan dilepaskan, dan yang menemani ke dalam kubur hanyalah amal saleh.
Karena itu, marilah kita mempersiapkan bekal sebelum datang hari yang tidak dapat kita hindari. Perbaikilah shalat kita, karena shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab. Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, berzikir, dan beristighfar. Ringankan tangan untuk bersedekah, sambunglah silaturahmi, hormatilah kedua orang tua, didiklah anak-anak kita agar menjadi anak yang saleh, dan segeralah meminta maaf jika pernah menyakiti sesama.
Jangan menunda taubat dengan mengatakan, "Nanti kalau sudah tua saya akan berubah." Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia akan sampai pada usia tua atau tidak. Kesempatan terbaik untuk bertaubat adalah hari ini, saat kita masih diberi kesehatan dan kesempatan oleh Allah.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Lima sifat yang telah kita bahas hari ini adalah bekal untuk menjadi manusia terbaik. Dekatlah kepada Allah dengan ibadah. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama. Jagalah lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain. Bersihkan hati dari sifat tamak dan iri. Dan persiapkanlah diri untuk bertemu dengan Allah dengan memperbanyak amal saleh.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita membawa pulang lima nasihat hari ini.
Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia tetapi lalai beribadah.
Jangan sampai kita hidup hanya memikirkan diri sendiri tanpa memberi manfaat kepada orang lain.
Jangan sampai lisan dan perbuatan kita menjadi sebab rusaknya persaudaraan.
Jangan sampai hati kita dipenuhi iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
Dan jangan sampai kita lupa bahwa suatu hari nanti kita semua akan kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah memperbaiki iman kita, menjaga keluarga kita, melapangkan rezeki kita yang halal, menjauhkan kita dari segala fitnah, dan menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.
Komentar
Posting Komentar